MENOLAK LUPA
MOGOK BURUH FREEPORT

Buruh adalah tulang punggung produksi. Meskipun demikian penghargaan dan penghormatan terhadap buruh freeport yang adalah tulang punggung produksi freeport kurang baik. Kondisi itu dapat dilihat dari sikap manajemen freeport yang merumahkan ribuan buruh freeport sehingga disikapi dengan aksi mogok kerja buruh freeport yang dimulai pada tanggal 1 Mei 2017 lalu hingga saat ini.

Pertanyaannya apakah semua tuntutan buruh freeeport yang dipenuhi ?.

Semua telah jelas bahwa Freeport tidak memperdulikan nasibmu Buruh Freeport yang mogok. Apalagi Pemerintah Indonesia yang tidak buat apa2 saat Buruh Freeport Mogok, malah disaat itu Pemerintah sibuk memotong pajak upah buruh freeport yang telah dirupiahkan. Selain itu, Pemerintah malah terus mengemis saham yang akhirnya di tolak freeport pada bulan juli 2017 lalu. Anehnya lagi Pemprof Papua malah berikan 10% saham ke BUMD dan PT. Inalum bukannya pikirkan nasib buruh freeport yang mogok.

Dengan waktu mogok yang sudah mau memasuki setahun (1 Mei 2017 - 1 Mei 2018) apakah tuntutan Buruh Freeport yang sudah di penuhi ?. Jangan mau diperas kerangatku buruhku, kaulah tulang punggung produksi Buktikan Kuasamu atas Alat Produksi ....

"BURUH BERKUASA, RAKYAT SEJAHTERA"

HIDUP BURUH

Baca link berikut untuk mengingat perjuangan Buruh Freeport yang Mogok ( https://www.cnnindonesia.com/nasional/20170501151335-20-211386/tuntutan-tak-dipenuhi-karyawan-freeport-mogok-kerja-sebulan) atau baca saja dibawah ini:


Tuntutan Tak Dipenuhi, Karyawan Freeport Mogok Kerja Sebulan
Pekerja PT Freeport dan kontraktor menggelar aksi peringatan Hari Buruh Internasional di Timika, Papua, Senin (1/5). Mereka juga mengumumkan memulai aksi mogok kerja selama satu bulan, mulai 1-30 Mei 2017. (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)

Jakarta, CNN Indonesia -- Ribuan karyawan PT Freeport Indonesia di Kabupaten Mimika, Provinsi Papua memulai aksi mogok kerja selama sebulan penuh terhitung mulai 1 Mei hingga 30 Mei 2017, menyusul belum tercapainya kesepakatan dengan pihak manajemen perusahaan itu.

Ketua Bidang Organisasi Pimpinan Unit Kerja Serikat Pekerja Kimia, Energi dan Pertambangan (PUK SP-KEP) SPSI PT Freeport Yafet Panggala mengatakan, aksi mogok kerja karyawan Freeport dimulai bertepatan dengan peringatan Hari Buruh Sedunia pada tanggal 1 Mei atau May Day.

"Sampai tadi malam pukul 00.00 WIT, kami terus menunggu itikad baik dari manajemen untuk menerima tuntutan kami. Tapi ternyata hal itu belum terjadi atau belum ada kesepakatan. Dengan demikian, surat mogok kami yang sebelumnya disampaikan ke pihak perusahaan dan pemerintah adalah sah," kata Yafet di Timika, Papua, Senin (1/5).

Menurut dia aksi mogok karyawan Freeport akan segera diikuti oleh karyawan perusahaan kontraktor dan privatisasi Freeport yang tergabung dalam 14 Pimpinan Unit Kerja (PUK).

Namun karyawan perusahaan kontraktor dan privatisasi Freeport baru akan bergabung dalam aksi mogok kerja bersama mulai 9 Mei 2017, sebagaimana terlampir dalam surat pemberitahuan mogok mereka ke Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Perumahan Rakyat Mimika.

Yafet menegaskan PUK SP-KEP SPSI PT Freeport terus membuka dan membangun komunikasi dengan pihak manajemen perusahaan. Jika nanti terjadi kesepakatan dengan pihak manajemen perusahaan, maka aksi mogok karyawan PT Freeport bisa dihentikan.

"Mogok bukan tujuan, tapi semata-mata alat perjuangan kami. Jangan sampai ada kesan bahwa kami hanya mau mogok terus. Tidak seperti itu," jelas Yafet.

Ia mengatakan hingga kini Serikat Pekerja dengan pihak manajemen PT Freeport masih belum bersepakat dalam beberapa hal terkait penerapan sanksi bagi karyawan yang dianggap melakukan pelanggaran terhadap Perjanjian Kerja Bersama/PKB-Pedoman Hubungan Industrial/PHI 2015-2017.

Pihak Serikat Pekerja ngotot agar seluruh karyawan yang tidak masuk kerja sejak 11 April 2017 tidak diberikan sanksi PHK, tapi hanya sanksi berupa pembinaan (surat peringatan satu sampai surat peringatan tiga plus) dan tidak dibayarkan hak-haknya (upah) selama meninggalkan pekerjaan.

Semua sanksi yang akan dijatuhkan kepada karyawan yang mangkir bekerja tersebut harus dibicarakan bersama dengan pihak Serikat Pekerja, alias tidak diberi tindakan semena-mena oleh pihak manajemen.

Sementara manajemen PT Freeport tetap berkeras mengambil kewenangan penuh dalam menegakkan disiplin bagi para pekerja yang mangkir, termasuk bagi karyawan yang potensial terkena PHK.

Saat ini spanduk-spanduk, pamflet dan stiker-stiker soal adanya sanksi PHK bagi karyawan yang tidak masuk kerja berturut-turut selama lima hari tanpa pemberitahuan yang jelas, berseliweran di Terminal Bus Gorong-gorong Timika yang merupakan pintu akses keluar masuk ke area perusahaan.

Spanduk, stiker dan pamflet serupa ditemukan di sekitar Check Point 28 dekat jalan masuk ke area Bandara Mozes Kilangin Timika.

@ Wissel Van Nunubao