Kembalikan Identitas Orang Asli Papua, Catatan dari Kisah Kelapa Berbuah Jerigen, Berair Sagero
Awalnya
Sudah
banyak kisah yang terekam tentang Papua. Orang-orang, hutan, gunung dan
sungai, adat budaya serta kebiasaan, konflik bersenjata, sampai pada
harapan-harapan pun perjuangan menuju ‘Papua Tanah Damai’. Dari yang
terekam, menyembul-simpul satu kata-kalimat bahwa tentang Papua yang
terentang-bentang dari Sorong hingga Merauke itu sungguh ‘Kaya Raya’.
Dua
‘kekayaan’ yang paling menjulang adalah pertama, alamnya yang
menghidupkan dan kedua adalah keberagaman identitas adat dan budaya yang
antara satu dengan yang lainnya saling menguatkan. Selebihnya adalah
‘kekayaan’ penyerta, dua misal di antaranya yang sudah kita kenal adalah
banyak pesepak bola bermental ‘pantang kalah’ datang dari sana, dan
yang lain adalah ‘epen kah, cupen toh’ dalam mop Papua yang jika
didengar-simak bikin kita pica ketawa.
Namun Kemudian
Catatan
kecil ini tidak bermaksud hendak mengumpas-tuntas tentang segala dan
semua-nya Papua. Saya cukup diri memilih satu untuk dicatat lagi, yakni
tentang ‘Pohon Kelapa Berbuah Jerigen’. Di bawah judul yang saya
copy-paste dari film pendek produksi JPIC MSC Papua ini sebenarnya saya
hendak:
Pertama, mengisahkan kembali tentang
identitas keberadaan orang-orang suku Gebze di tanah Malind Amin
(Merauke), yang menjadikan ‘pohon kelapa’ sebagai symbol dan identitas
keberadaannya.
Kedua, mengisahkan kembali tentang mengapa dalam perjalanan waktu pohon kelapa akhirnya berbuah jerigen.
Ketiga, mencoba menganalisa tentang jerigen sebagai symbol dan identitas yang asing (dalam tanda kutip modern).
Keempat, Ketika sesuatu yang asing diterma sebagai ‘yang baik’.
Kelima, kembali ke kelapa, kembali ke titi rasa, kembali ke jati diri. Well, lalu bagaimana?
Begini Yang Pertama, Pohon Kelapa Sebagai Identitas
Konon,
kisah tokoh Adat Malind, Bapak Elyas Mayuend. Di tanah Malind Amin
(Merauke) tinggal sebuah keluarga yang bernama keluarga Gebze. Di dekat
tempat tinggal keluarga Gebze menetap tumbuh sebatang pohon yang sangat
tinggi dan bentuknya aneh. Pohon tersebut adalah pohon kelapa.
Namun
pada suatu ketika, pohon kelapa tersebut roboh ke tanah. Melihatnya
roboh, keluarga Gebze mulai membagi-bagikan bagian perbagian dari pohon
tersebut. Sebagian memilih batang, sebagian memilih daun, sebagian
memilih buah, sebagian yang lain memilih akar. Singkatnya, tak ada yang
tersisa dari pohon tersebut karena keluarga Gebze memilih dan
membagikannya semua.
“Kalau
menurut adat Malind, potong batang kelapa, walaupun untuk diminum
airnya saja, itu ada sanksinya. Apalagi kalau mayangnya dipotong, atau
buah kelapa dan tandangnya dipotong, itu tidak boleh. Tidak boleh
potong-potong sembarang…siapa pun yang melanggarnya dibisa dibunuh”
Bapak Elyas Mayuend
Dari
pohon kelapa itu, kemudian lahirlah family “Geb Wnangga’’ yang
seterusnya menurunkan marga yang dibagi berdasarkan anatomi pohon
kelapa. Kini, terdapat 12 family kelapa Gebze, diantaranya adalah Family
Mauyend (batang), family Awabalik (pohon), family Walinawlik (tangkai),
Family Dinawlik (tempurung), Family Biluklik (buah kelapa kecil), dan
family Maliongglatlik (kelapa tak bertangkai).
Jujur
saja, saya tidak terlalu tahu banyak seberapa dekat ikatan
emosional-sosial-kultural antara keluarga-keluarga dalam cakupan family
“Geb Wnangga” dengan pohon kelapa. Namun yang pasti bahwa ketika
sesuatu, semisal pohon kelapa disebut-aku sebagai ‘symbol’ dan atau
‘identitas’ maka sesuatu tersebut sudah merupakan perpanjangan diri,
eksistensi dan keberadaan manusia yang mengakuinya. Sesuatu yang tidak
hanya menjelaskan tentang cara berada, tetapi lebih jauh dari itu adalah
tentang keyakinan-keyakinan, pegangan hidup dan pun pula norma-norma
yang tak tergadaikan.
Begini Yang Kedua, Pohon Kelapa Berbuah Jerigen, Ber-air Sagero
Namun
dalam perjalanan waktu, seiring kian banyak pendatang yang datang
(terminologi yang dipakai pemerintah Indonesia adalah transmigrasi) ke
tanah Papua, entah itu datang (baik yang didatangkan maupun atas
kehendak sendiri) dari tanah Jawa, dari pulau-pulau di Nusa Tenggara,
Maluku maupun Kalimantan, pun bersamaan dengan itu, masuknya (baik yang
dimasukkan maupun yang masuk sendiri) kebiasaan-kebiasaan baru,
‘nilai-nilai’ baru yang berintrik ‘modern’, secara perlahan pula di
tanah Papua, semisal di suku Gebze terjadi asimilasi sosiologis dan
cultural.
Saya menyebutnya sebagai perjumpaan yang berulang. Well,
perjumpaan yang berulang dengan sesuatu yang dibawa para ‘amber’
(pendatang) itu turut mempengaruhi tidak hanya kebiasaan dan cara
bertindak orang asli Papua, tetapi juga pola pikir dan pandangan hidup
mereka yang diwaris-turunkan secara bergenerasi sebagai ‘tradisi sehat’
dicemas-khawatirkan kian rapuh dan luntur dimakan pengaruh.
Salah
satu di antaranya adalah perihal tradisi minuman keras/beralkohol
seperti sagero dan sopi. Sagero adalah minuman keras yang berasal nira
pohon kelapa. Sopi adalah hasil penyulingan dari sagero. Kadar alcohol
tergantung dari proses penyulingan, rata-rata berkadar alcohol di atas
50%.
“Bakal
bunga dan buah pohon kelapa diiris, membiarkan nira-nya jatuh memenuhi
jerigen aneka warna yang bergelantungan di puncak pohonnya. Dari puncak
pohon ‘identitas diri’ keluarga Gebze itu, kesakralan hakikat keberadaan
mereka menetes jatuh jadi titik-titik sagero yang sangar”
“Di
budaya Malind, tidak ada tradisi minuman keras (seperti) alcohol yang
di toko, sagero atau sejenisnya. Namun pada saat perang melawan Jepang,
banyak suku dari luar Papua yang datang. Ada yang datang dari Maluku,
ada yang dari Nusa Tenggara Barat. Dan dari Maluku yang memang mempunyai
tradisi minuman sagero dan sopi. Mereka bawa tradisi itu ke Merauke”
jelas Bapak Elyas Mayuend.
Kehadiran
para pendatang di tanah Papua, semisal di tanah Malind secara perlahan
membuat pohon kelapa kehilangan ‘kesakralannya’. Sebelumnya, aku
penduduk tanah Malind, pohon kelapa hanya dapat difungsikan jika
dibutuhkan untuk kehidupan. Daunnya digunakan untuk atap rumah,
batangnya untuk tiang atau papan, akarnya untuk tali, lidinya untuk sapu
lidi, buahnya untuk konsumsi makanan sehat.
Namun,
“Sekarang banyak dari mereka (para pendatang dan) anak-anak keturunan
yang sewa pohon kelapa per tahun. Alasannya untuk memproduksi gula
merah. Namun mereka juga masak sopi. Tradisi itu akhirnya menular juga
ke anak-anak muda Papua” jelas Bapak Elyas Mayuend.
Tradisi.
Tradisi miris. Bakal bunga dan buah pohon kelapa diiris, membiarkan
nira-nya jatuh memenuhi jerigen aneka warna yang bergelantungan di
puncak pohonnya. Dari puncak pohon ‘identitas diri’ keluarga Gebze itu,
kesakralan hakikat keberadaan mereka menetes jatuh jadi titik-titik
sagero yang sangar (konflik). Miris memang.
Begini yang Ketiga, ‘Jerigen’ Sebagai Yang Asing dan Yang Lain
Benar
juga kata Elias Caneti, novelis kelahiran Bulgaria yang pada 1981
memperoleh Penghargaan Nobel dalam Sastra “untuk tulisan-tulisan yang
dicirikan oleh sudut pandang yang luas, gagasan yang kaya dan kekuatan
artistik”. Begini katanya: “Tak ada yang lebih menakutkan manusia
daripada persentuhan dengan yang tak dikenal”.
Namun
demikian, terhadap yang asing dan yang lain dan atau yang tak dikenal
manusia, mau atau tidak mau harus suluk-jumpa sekalipun memang
menakutkan. Tidak hanya yang misteri sebagai yang tak dikenal, tetapi
juga terhadap masa depan dan perubahan yang turut serta di dalamnya
adalah juga sesuatu yang tak dikenal.
Manusia
dalam hidup dan kehidupannya tidak punya kemampuan untuk mempengaruhi
masa depannya. Sekali pun tentang masa depan diyakini diusahakan menjadi
baik dan bermartabat. Karena, hemat saya, hidup dan kehidupan adalah
proses melawan ketakutan-ketakutan.
“Tentu
saja bukan ‘sekolah’ (pendidikan) yang salah. Tetapi, bagaimana
pendidikan itu menjawab kebutuhan social dan cultural orang-orang asli
Papua, secara khusus masyarakat suku Gebze yang mesti di-evaluasi”
Solusi
termutkhir dan saya kira adalah juga solusi paling purba (yang masih
tetap relevan) adalah penguatan yang berulang atas identitas diri. Tidak
menakutkan di hadapan yang asing dan tidak dikenal jika kita menyadari
sungguh “Siapakah aku ini”. Sehingga sekalipun perubahan-perubahan
melingkupi diri, sekalipun kegelapan menakutkan menaungi, namun
kemampuan untuk menjawab secara berulang “siapakah aku ini” memampukan
kita sebagai manusia, entah pribadi maupun sebagai komunitas suku, untuk
imun terhadap perubahan yang sakit dan tidak sehat.
Semakin
selalu menjawab ‘siapakah aku ini’ di hadapan perubahan, hemat saya,
secara social dan budaya merupakan bentuk imunoteraphi paling sehat.
Tidak ada upaya awas yang paling manjur untuk mempertahankan identitas
cultural, social yang kita miliki selain dengan menyaji-santap selalu
tradisi sehat, modal budaya dan nilai-nilai moral yang kita miliki
sebagai identitas. Sebagai yang ‘gue banget gitu loh’.
Dalam
pada itu, untuk kasus keluarga Gebze di tanah Malind Amin, hemat saya,
Jerigen bukan hanya merupakan sesuatu yang asing sebagai ‘benda’, tetapi
juga merupakan sesuatu yang lain dan tak kenal sebagai ‘kebiasaan dan
tradisi’. Namun demikian, lantaran perjumpaan yang berulang dengan
keanekaan tawaran dan pengaruh di satu sisi dan di sisi yang lain
terdapat ‘kerapuhan’ perisai identitas maka ‘kesakralan’ pohon kelapa
itu luntur (dan bahkan nyaris hilang).
Sepenggal
kalimat dari Bapak Elyas Mayuend berikut ini saya kira pantas untuk
direfleksikan (kendatipun memang bisa diperdebatkan) “Sebenarnya
kesalahannya ada di orang-orang tua kami sendiri. Sekarang anak-anak
belajar ilmu sekolah. Sementara dulu kami, belajar adat”.
Tentu
saja bukan ‘sekolah’ (pendidikan) yang salah. Tetapi, bagaimana
pendidikan itu menjawab kebutuhan social dan cultural orang-orang asli
Papua, secara khusus masyarakat suku Gebze yang mesti di-evaluasi.
Begini yang Keempat, Ketika ‘Jerigen’ Diterima Sebagai ‘Yang Baik’
Di
Papua, kisah tentang ‘Jerigen’ sebagai yang asing, hanya salah satu
contoh soal dari sekian banyak soal yang asing lain. Satu soal yang
‘paling asing’ yang menakutkan orang asli Papua adalah eksploitasi
terhadap identitas kehidupan masyarakat asli Papua di tanah Papua. Kini,
jika saya mendengar kisah dari para sahabat, membaca surat kabar,
mendengar berita televisi dan membaca buku tentang Papua. Saya jadi
merinding.
“Apakah
karena begitu tidak berdayanya orang asli Papua maka varian kepentingan
itu datang ‘seenak perut’ untuk merampas-menjajahnya?”
Orang-orang
asli di tanah Papua, termasuk di dalamnya adalah masyarakat keluarga
Gebze seperti sudah sedang dikepung varian ‘sesuatu yang asing’ dari
delapan penjuru mata angin. Tidak hanya yang tampak seperti barisan
tentara dan polisi keamanan yang bermain-main dengan pelatuk senjata,
atau eksploitasi alam laut dan darat, penguasaan lahan pangan oleh
pendatang, perampasan kepentingan dan hak hidup dalam dan melalui
kekuatan ekonomi dan politik, tetapi juga yang paling senyap sekalipun
adalah semisal dalam ‘kata’. Sederetan ‘kata’ miris mengepung Papua,
saya mengangkat beberapa misal: Papua itu primitif, papua itu separatis,
papua itu terbelakang, papua itu tidak modern, papua itu mabuk dan
seterusnya.
Apakah
karena begitu tidak berdayanya orang asli Papua maka varian kepentingan
itu datang ‘seenak perut’ untuk merampas-menjajahnya? Anehnya,
Nusantara sebagai bunda dan Papua yang seharusnya dipeluknya,
seakan-akan menerimanya sebagai ‘yang baik’. Tidak apa-apa.
Santai-santai saja. Seperti Jerigen di tanah Malind Amin yang akhirnya
mengaburkan identitas diri keluarga Gebze, serupa itu pula varian
kepentingan datang menghujam Papua, tidak hanya memporakporandakan harga
diri orang-orang asli Papua, tetapi juga merangsek masuk mengebirinya.
Miris.
Akhirnya, Memang Harus Kembali Ke Kelapa
Papua
memang harus merdeka. Merdeka untuk mengatakan ‘Inilah aku’ tanpa
ditakuti oleh siapa pun, termasuk Indonesia. Saya percaya seribu persen,
bahwa Papua tidak akan berteriak ‘kami mau berpisah dari Negara
Kesatuan Republik Indonesia’ jika diberi ruang untuk menjawab “siapakah
aku ini?”.
Sebaliknya orang asli Papua akan merasa sangat berterima kasih kepada Indonesia, kepada para amber
perusak, pendatang yang pongah, singkatnya kepada semua yang asing dan
tak kenal jika dan hanya jika orang asli Papua diberi ruang dan waktu
untuk menemu-bangun-kokohkan identitas dan jati diri mereka dari
puing-puing kehancuran. Singkatnya membiarkan mereka untuk kembali
menyatu dengan pohon kelapa-nya. Identitasnya.
“Bayangkan
pula, batapa sakitnya orang asli Papua, yang secara perlahan-lahan
disisihkan dan kian menjadi minoritas. Bagaimana jika itu terjadi di
dalam ruang kehidupan anda?”
Bayangkan,
betapa sakitnya jika varian kepentingan, sesuatu yang asing itu datang
hanya untuk mematah-rubuhkan family “Geb Wnangga’’ yang seterusnya harus
menjaga-menurunkan Family Mauyend (batang), family Awabalik (pohon),
family Walinawlik (tangkai), Family Dinawlik (tempurung), Family
Biluklik (buah kelapa kecil), dan family Maliongglatlik (kelapa tak
bertangkai).
Bayangkan
betapa sakitnya orang asli Papua jika melihat kelapa mereka berbuah
jerigen. Padahal kelapa adalah jari-jari, tangan-tangan, tubuh dan
bahkan hati mereka. Bayangkan, betapa sakitnya orang asli Papua, jika
keindahan tanah mereka diperkosa, keindahan kehidupan mereka distigma
primitive, perjuangan mereka untuk mempertahan-tegakkan identitas
disebut sebagai separatis.
Bayangkan
pula, batapa sakitnya orang asli Papua, yang secara perlahan-lahan
disisihkan dan kian menjadi minoritas. Bagaimana jika itu terjadi di
dalam ruang kehidupan anda? Terlalu sakit bukan. Itu sudah.
1 Sumber utama catatan pendek ini adalah 1) Tulisan wartawan Kompas, B Josie Susilo Hardianto dalam http://cetak.kompas.com/read/2010/08/06/03582132/alam.dan.identitas.masyarakat.malind dan 2) sebuah film pendek berjudul ‘Kelapa Berbuah Jerigen’ karya JPIC MSC yang disutradarai Leo Moyuend
Oktovianus Pogou, dalam ‘Lunturnya Budaya Papua di Era Globalisasi’ http://www.theglobal-review.com/content_detail.php?lang=en&id=411&type=9
Bdk. Juga catatan dari Yeremias Dagei ‘Minuman Keras, Keras Kepala di Tanah Papua’ dalam http://sosbud.kompasiana.com/2011/11/25/minuman-keras-keras-kepala-di-tanah-papua/
Dicopas dari : http://sosbud.kompasiana.com






















