Refleksi Paskah: Antara Pengadilan dan Hukum Kepalsuan indonesia terhadap Umat Tuhan di West Papua

Baca Juga

REFLEKSI PASKAH 2018

PERAYAAN IBADAH PASKAH DI ANTARA PENGADILAN & HUKUM KEPALSUAN INDONESIA TERHADAP UMAT TUHAN DI TANAH WEST PAPUA
Pilatus - Yesus / ils sumber: http://gkysunter.org

Raja Pilatus mengakui kebenaran yang ada dalam Yesus Kristus. " Aku tidak mendapati kesalahan apa pun pada-Nya" (Yohanes 18:38b).

Lebih jauh Pilatus bertanya kepada orang-orang Farisi dan pemimpin agama yang menuduh Yesus bersalah.

"Kejahatan apa yang sebenarnya telah dilakukan orang ini? (Markus 27:24). Tidak ada suatu kesalahan pun yang kudapati pada-Nya, yang setimpal dengan hukuman mati. Jadi aku akan menghajar Dia, lalu melepaskan-Nya" (Lukas 23:22).

Istri Pilatus juga mengakui Yesus adalah orang benar. "Jangan mencampuri perkara orang benar itu, sebab karena Dia aku sangat menderita dalam mimpi tadi malam" (Matius 27:19).

Yesus mengatakan kepada Pilatus: "Kamu mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu" (Yohanes 8:32).

Seperti Yesus dituduh dengan tuduhan-tuduhan palsu dan diperhadapkan kepada para hakim dan pengadilan palsu, demikian juga fakta memberikan kesaksian dan menjadi catatan sejarah panjang di West Papua, bahwa umat Tuhan pemilik negeri dan ahli waris Tanah ini diberikan tuduhan-tuduhan palsu dan dihukum penjara oleh hakim bahkan ditembak mati oleh serdadu, polisi Indonesia.

Kejahatan kepalsuan itu terjadi ketika umat Tuhan, rakyat dan bangsa West Papua mempertahankan tanah mereka, hutan mereka, hak hidup hidup mereka, hak politik mereka. Pemerintah Indonesia menuduh umat Tuhan dengan tuduhan palsu, anggota OPM, membuat makar dan separatis.

Umat Tuhan dicaci maki, ditendang, disiksa, dihina, martabatnya direndahkan dengan tuduhan-tuduhan palsu oleh serdadu dan polisi Indonesia. Umat Tuhan benar-benar dibuat tidak punya martabat sebagai manusia.

Hidup rakyat dan bangsa West Papua selalu disalahkan dan dikalahkan pada saat berhadapan dengan hakim palsu, serdadu dan polisi Indonesia, walaupun fakta menyatakan bahwa umat Tuhan adalah pihak yang benar dan pemenangnya.

Apakah khotbah kematian Yesus itu hanya biasa-biasa saja tanpa dampak dalam dunia realitas di West Papua?

Apakah khotbah kematian Yesus itu hanya cerita tentang peristiwa-peristiwa penangkapan, penyiksaan, penyaliban, penguburan dan kebangkitan Yesus?

Apa tujuan Yesus rela mati di kayu salib, dikubur dan bangkit dari kuburan?

Mengapa khotbah kematian dan kebangkitan Yesus itu belum bahkan tidak pernah mengubah wajah kehidupan umat Tuhan di West Papua?

Mengapa kejahatan, kekejaman, kepalsuan hakim Indonesia, serdadu/tentara dan polisi Inodonesia semakin menguasai daripada kuasa kematian dan kebangkitan Yesus?

Apa yang salah di sini?

Apakah berita kematian dan kebangkitan yang salah? Ataukah para gembala dan hamba Tuhan yang tidak mengerti pesan dari salib Yesus?

Pesan Salib itu harus hadir dalam dunia realitas. Pesan salib itu harus melawan hakim palsu Indonesia yang ada di West Papua yang mengadili dan menghakimi umat Tuhan di West Papua.

Pesan salib itu harus hadir dan menegur dan memperbaiki para serdadu/tentara/polisi Indonesia yang menuduh umat Tuhan pemilik negeri ini dengan tuduhan palsu dan mitos-mitos OPM, makar dan separatis.

Pesan salib itu harus hadir dalam dunia nyata dan mengatakan kepada pemerintah Indonesia, segera mengungkap siapa penembak dan pembunuh umat Tuhan, 4 siswa di Paniai pada 8 Desember 2014 dan mengungkap pembunuh-pembunuh umat Tuhan lain.

Gereja harus mengatakan kepada hakim palsu Indonesia, tentara dan polisi Indonesia, engkau masih menyiksa Yesus, engkau masih menghina Yesus, engkau masih meludahi Yesus, engkau masih paksa Yesus untuk memikul salib, engkau masih menyalibkan Yesus, engkau masih memaku kaki dan tangan Yesus, engkau masih memahkotai duri di kepala Yesus, engkau masih menusuk lambung Yesus dengan tombak dan senjata kepalsuanmu.

Jangan kita biarkan kejahatan dan kepalsuan menindas umat Tuhan di West Papua. Amin.

Selamat Paskah.

(Gembala Dr. Socratez S. Yoman)

Ita Wakhu, Jumat, 30 Maret 2018.