Jakarta - Survei terbaru tentang persepsi warganet terhadap isu Papua yang diselenggarakan oleh change.org dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) memunculkan berbagai temuan menarik. Salah satunya adalah perbedaan persepsi yang sangat serius antara orang Luar Papua, Penduduk Papua Non-Asli dengan Orang Asli Papua (OAP).

Hal ini tampak pada aspirasi merdeka. Aspirasi merdeka tidak mengemuka pada responden warga di luar Papua maupun warga non asli Papua di Papua. Namun aspirasi itu muncul di kalangan Orang Asli Papua (OAP).

Ketika responden disodori pertanyaan, "Saat memikirkan Tanah Papua kata apa yang terbayang di kepalamu?" warga Indonesia di luar Papua menjawab Indah (17 persen), Tertinggal (10 persen) Terpencil (9 persen), Kaya (9 persen) dan Raja Ampat (5 persen).

Sementara itu Penduduk Papua non Asli menjawab Indah (12 persen), Kaya (11 persen), Surga (6 persen), Tertinggal (6 persen) dan Hutan (3 persen).

Adapun penduduk Papua Asli menjawab Indah (19 persen), Kaya (8 persen), Merdeka (7 persen), Surga (6 persen) dan tertinggal (6 persen).


Survei tidak menjelaskan mengapa aspirasi merdeka muncul di kalangan OAP tetapi tidak muncul di kalangan penduduk luar Papua dan Papua non Asli di Papua. Namun, tampaknya hal itu berkaitan dengan persepsi mereka tentang keadaan Papua.

Hampir 70 persen Orang Asli Papua menilai keadaan Papua sangat mengkhawatirkan dan mengkhawatirkan, berbanding terbalik dengan penduduk non Papua Asli di Papua yang menilai keadaan di Papua justru Baik dan  Baik Sekali.

"Perbedaan persepsi tentang kondisi Papua ini menunjukkan bahwa kondisi Papua masih bermasalah, dinilai aman bagi pendatang karena banyak tentara, namun tidak aman bagi OAP karena pelanggaran HAM," kata Peneliti LIPI, Cahyo Pamungkas, dalam siaran persnya yang diterima oleh satuharapan.com (14/12).

Survei ini diikuti lebih dari 27 ribu responden, terdiri dari 2 persen warga Asli Papua, 3 persen penduduk Papua non-Asli dan 95 persen warga di luar Papua. Persentase tersebut dianggap cukup reflektif terhadap populasi pengguna internet.

Survei berlangsung selama tiga minggu pada bulan November 2017. Tujuan survei adalah untuk mengetahui bagaimana warganet memandang masalah-masalah yang terjadi di Papua, isu-isu apa saja yang menjadi perhatian mereka dan sejauh mana pemahaman mereka tentang isu-isu di Tanah Papua.

Survei tersebut yang selengkapnya dapat dilihat di sini, menemukan perbedaan persepsi yang sangat tajam di antara tiga kelompok responden.

Selain mengenai keadaan Papua, perspesi responden juga berbeda secara mencolok tentang masalah terbesar di Tanah Papua. Jawaban tertinggi dari warga luar Papua adalah kualitas pendidikan yang rendah (14 persen), sedangkan penduduk Papua non Asli menyebut miras dan narkoba (12 persen) sedangkan OAP menjawab pelanggaran HAM (14 persen).

"Berdasarkan hasil survei, permasalahan di Papua tidak hanya pendidikan, kemiskinan dan miras, namun juga pelanggaran HAM (8 persen). Oleh karena itu penyelesaian persoalan Papua tidak bisa dilepaskan dari penyelesaian HAM, baik dengan cara pengadilan ataupun rekonsiliasi," lanjut dia.

Salah satu poin penting, menurut Cahyo Pamungkas, adalah meskipun terdapat perbedaan persepsi, hampir semuanya (93 persen) menilai bahwa dialog nasional penting dan penting sekali untuk mencari solusi bagi masalah yang ada. Semua kelompok menilai Presiden Jokowi (40 persen) dan Masyarakat Papua (12 persen) memegang peranan kunci dalam menyelesaikan masalah-masalah yang ada di Tanah Papua.

Editor : Eben E. Siadari
Sumber: http://www.satuharapan.com