A LIFE FOR JUSTICE, A STORY FOR FREEDOM
MARCH 2015
19 YEARS LATER - Minggu ini, 19 tahun yang lalu,
tepatnya 12 Maret 1996, tentu bukanlah waktu yang cukup lama untuk tidak
membaca lembaran jurnal yang tertulis ketika mengikuti beberapa
peristiwa ganjil terjadi sepanjang minggu dimaksud sebelum kematiannya
almarhum Dr. Thomas Wapay Wainggai. Misalkan, satu peristiwa yang masih
teringat sangat jelas siang itu pintu rumah depan diketuk oleh 4 orang
anggota Badan Inteljen Indonesia (BIN) yang mendatangi rumah tanpa
menunjukan identitas mereka jelas; Meskipun ada nama mereka tertulis
yang sempat diberikan dari mereka (BIN).
Perkenalan
mereka ketika pintu rumah dibuka dan mendengar sapaan mereka langsung
bertanya - Benarkah ini rumah keluarga Wainggai ? Apakah ada ibu
Wainggai ? Aku terdiam membisu dan balik bertanya bapak-bapak ini dari
manakah ? Mengapa harus bertanya ibu Wainggai. Apakah tidak cukup kalau
saya saja yang layani bapak-bapak. Jawab mereka (Anggota BIN), kami dari
pihak Kepolisian Resort Jayapura, dan dua diantaranya adalah anggota
Kodam Baru Klofkamp Puncak. Maksud dan kedatangan kami ingin
menyampaikan kepada ibu Wainggai bahwa bapa Wainggai telah meninggal di
Jakarta.
19 tahun kemudian, seiring dengan waktu
ditempat yang berbeda di Virginia, US, sambil menikmati hari ini dengan
melihat salju yang turun membuat aktifitas terfokus pada lebih banyak
berada didalam ruangan ketimbang pergi ke luar rumah disebabkan karena
suhu dingin dan terlihat dimana-mana banyak turun salju menimbun
sepanjang ruas jalan. Jalan aspal yang terlihat warna hitam dan biasanya
banyak dilewati kendaraan mobil lalu-lalang pun terlihat sunyi sepi
sepanjang hari ini dan tertutup warna putih salju. Intinya aktifitas
hari ini sunyi senyap yang berbeda dengan 19 tahun lalu ketika rasa duka
yang mendalam meliputi keluarga dan segenap rakyat Papua Barat atas
kehilangan orang tua kekasih almarhum Dr. Thom.
Jenasah
almarhum yang tadinya mendapat larangan keras dari pihak pemerintah
Jakarta supaya tidak diterbangkan ke Papua dan harus dikuburkan saja di
Jakarta. Setelah mendengar ini semua maka selama beberapa hari dalam
negosiasi panas dengan pihak negara Indonesia di Jakarta pada akhirnya
jenasah almarhum harus dipulangkan ke Jayapura. Berita tanggal 12 dan 18
Maret 1996 akibat pengiriman jenasah almarhum Dr Thom dari Jakarta yang
dikirim ke Papua Barat menyebabkan ribuan rakyat Papua Barat menunggu
disepanjang Sentani Air Port, rakyat Papua Barat berniat untuk mengusung
peti mayatnya secara damai sepanjang jalan kurang lebih 50 kilo meter
dari lokasi Sentani airport ke rumah Dok 9, namun tak diijinkan oleh
pihak aparat militer RI. Hal ini akhirnya membuat rakyat Papua Barat pun
tak sabar memberontak, ABEPURA terbakar, kota Jayapura menjadi lumpuh
total, tanah Papua menjadi tegang, kampus UNCEN pun turut berontak
dimana aktifitas kota pelajarpun jadi rusuh karena teriakan tanda
penghormatan didepan kampus untuk terakhir kali. Teringat sangat jelas
dalam ingatan saya dan orang Papua pada umumnya bahwa di kota Abepura
yang dikenal dengan kota pelajar dan dipagi hari yang sepi diselimuti
suasana duka cita yang dalam, dan yang tak terlukiskan, tiba-tiba
berubah menjadi neraka yang mencekam dan menakutkan saat jenasah sang
pahlawan melintasi kampus universitas kebanggaan masyarakat
Papua-Universitas Cenderawasih(UNCEN).
Pemuda/i Papua
Barat yang selama ini terkenal dengan sifat sopan- santun dan menghargai
nilai-nilai kemanusiaan, berubah bagaikan burung kasuari jahat yang
siap menyerang dan menendang siapa saja yang melintas didepan matanya.
Kepergian sang pahlawan,ternyata menjadi titik kebangkitan nasional
Papua ke- 2 dalam sejarah perjuangan bangsa Papua Barat. Kepergian sang
pahlawan meninggalkan luka hati yang dalam dan sekaligus membangkitkan
dan mewariskan nilai-nilai kepahlawanan yang melekat disudut hati insani
Papua Barat khususnya aktifist muda pelajar dan mahasiswa kala itu dan
perjuangan terus berlanjut hingga hari ini.
Setiap tahun memasuki
minggu awal di bulan Maret setelah beberapa tahun berada di exile
Virginia, US. Suka dan duka mengingat semuanya terbingkai jelas dalam
jurnal perjalanan panjang. Satu yang pasti, akan kembali dalam waktu
Tuhan, menikmati hari pembebasan Papua Barat - Melanesia merdeka!
![]() |
| With Jacob Rumbiak, Rev. Peter Woods, Parliament of Australia. Photo Tom Latupeirissa |
Sumber : Herman Wainggai


Post a Comment for "A LIFE FOR JUSTICE, A STORY FOR FREEDOM"
Silahkan menanggapi melalui kolom ini dengan bahasa yang santun, link aktif berupa spam dan link p*rno, togel akan dihapus.