PAPUA DARI WABAH KE WABAH : APAKAH INI BIOLOGI WAR? SEBUAH PERTANYAAN

Pada tahun 2007,saya membawa bibit durian dari Jakarta sehingga dalam bibit durian itu saya titip 4 pohon jeruk Manis dari Jawa, sehingga waktu saya mengurus surat ijin dari Balai Karantina Tumbuhan dan Hewan di Tanjung Priok, mereka melarang saya mebawa bibit jeruk ini karena selain tanaman ini akan buat tanah jadi tandus, hamanya juga bisa buat orang sakit buang - buang air kalau di tanam di Papua.
ilustrasi-sumber: google

Tahun 1942 waktu Babi Putih dibawah oleh orang Belanda dan Jepang untuk di ternakan didaerah Meeuwo Paniai, mulai saat itu dalam Babi Asli orang Mee mulai didapati penyakit cacing pita“sistiserkosis”,sehingga orang Mee menuduh orang Belanda dan Jepang sebagai pembawa virus “sistiser kosis” di daerah Meeuwo dan mulai ada wabah kematian Babi.

Cerita mengenai wabah dan virus di Papua, bukan hal baru buat kita karena, di tahun 1902 Orang Malind (Anem) di Merauke yang disebut suku “Mengayau”suduh menghadapi wabah virus ini saat melakukan perlawanan kepada Belanda dan Misionaris Katholik. Waktu itu, Belanda menyewa para ahli melakukan penelitian, memperoleh informasi mengenai kekuatan orang Malind yang berbadan raksasa itu agar bisa melumpuhkan mereka, dan hasilnya tahun 1905 Belanda, melepaskan sebuah virus yang bernama “Virus Spanyol”. Virus ini dilepaskan melalui tiupan arah angin di dekat pemukiman orang Malind ”Yelmasu” sehingga membuat seperempat (1/4) orang Malind mati berturut – turut dalam beberapa hari. Sehingga menjelang 1907 setiap perkampungan orang Malind tinggal 6 sampai 7 keluarga saja .
Kematian yang terus terjadi itu membuat banyak orang Malind berang gapan, wabah lahir dari kutukan tuan tanah atau “Dema”, karena orang pendatang telah hancurkan roh serta tempat keramat “pemali” mereka, lalu semua kepala suku Malind bersepakat dan melakukan perlawanan kembali untuk menghabisi para penjajah. Namun informasi akan dilakukan perlawanan telah didengar sehingga Belanda, semua pemukiman mereka di pagari dengan kawat duri ganas, membuat perangkap untuk tangkap setiap mereka yang masuk halaman. Saat orang Malind melakukan perlawanan ke pemukiman Belanda dan Misionaris, sebagian besar kepala suku orang Malind tertangkap dalam pagar berduri itu dan Belanda isolasi mereka , di bawah pakai kapal dan di penjarahkan di Ambon. Saat ini orang Malind Merana di tanah Animha.

Apa yang di alami orang Malind, terlebih dahulu telah di alami oleh Suku Aztec di Mexico 1554. Dimana Suku Aztec yang terkenal karena peradabaan mereka yang lama ini, punah dalam waktu lima hari , dimana 57 juta orang mati secara tiba - tiba. Kematian sekian juta orang ini membuat para ilmuwan belakangan bertanya - tanya, apa penyebab punahnya suku Aztec di Mexico ini.
Untuk menjawab teka-teki itu,paraIlmuwan dari University of Tuebingen Jerman memeriksa 29 DNA manusia purba Aztec pada Januari 2018, hasilnya mereka menemukan sebuah virus yang bernama bakteri salmonella enterica, dari varietas Paratyphi C yang biasanya menyebar melalui makanan , air yang terinfeksi, yaitu sebuah penyakit yang pernah hadir di daratan eropa pada abad pertengahan sehingga para ilmuwan beranggapan Salmonella enterica telah melakukan perjalanan ke Meksiko melalui hewan peliharaan yang dibawa oleh orang Spanyol sehingga telah memusnahkan suku Aztec.

Cerita kehadiran bangsa asing di suatu wilayah yang berdampak pada musnahnya suatu suku bangsa adalah bukan sesuatu yang baru. Misalnya; Suku Beothuk, yang tinggal selama ribuan tahun di Newfoundland juga punah saat orang-orang eropa dibawah John Cabot mulai mengeksploitasi kayu dan ikan di daerah mereka, sehingga suku Beothuk dipaksa keluar dari wilayah mereka dalam kondisi menderita TBC dan kekurangan gizi, sehingga suku ini punah tahun 1700, dan tahun 1829 tidak ada lagi orang Beothuk yang bisa kami ditemui di Newfoundland. Sedangkan Suku Karankawa yaitu kelompok penduduk asli Amerika yang mempunyai peran dalam sejarah berdirinya Texas juga mengalami kepunahan yang di akibat kan oleh Konflik dengan orang eropa dan melalui berbagai penyakit baru yang timbul dalam komunitas mereka. Kondidi yang sama di alami oleh Suku Mandan yang punah karena konflik dengan Amerika Serikat dan karena wabah penyakit Cacar, sehingga pada 1837, populasi mereka berkurang, dan tahun 1934 suku Mandan bergabung dengan dua suku Indian lain, namun Mandan asli terakhir meninggal pada tahun 1971. Kondisi yang sama juga dialami Suku Chisca atau yang bertempat tinggal di timur Tennessee , barat daya Virginia, Mereka juga punah karena berperang melawan orang-orang Eropa, terutama pada saat melawan orang-orang Hernando DeSoto dan Juan Pardo dari Spanyol sehingga pada akhir 1700-an, suku ini bergabung dengan Shawnee di bawah nama Chaskepe. Pada abad 18, Chisca punah dan kota-kota mereka dibakar oleh penjajah. Kemudian Suku Hachaath yang sebelumnya tinggal di Vancouver Island dan Barcland Island juga punah saat membuat konflik saat Kontak dengan Eropa dan penyakit cacar. Suku Bo juga mengalami kepunahan tahun 2010,padahal sekitar 65.000 tahun budaya dan bahasa Bo eksis di wilayah Adaman Besar, India. Demikian juga Suku Aborigin Tasmania yaitu sebuah masyarakat adat di negara bagian Tasmania hancur dan punah juga karena perang hitam 1828 dan 1832 kepada kolonis Inggris dan penyakit. Suku Ona juga punah pada pertengahan abad ke-20. Kemudian Suku Tainos yaitu penduduk pribumi daerah Bahama juga punah karena datangnya orang eropa , Kawin campur dan serangan perang dari orang eropa sehingga menyebabkan suku Tainos punah di abab ke -18.

Terus pace - mace dong bisa jawab ka….apa penyebab semua wabah yang terjadi di tanah Papua ka? Mulai dari wabah Kolera yang terjadi lembah Kamuu 2008,(173mati),wabah Streptococcus pneumonia, didistrik Mbua Ndugama 2016, (67 mati), wabah Cacar di Yahukimo 2015,(73mati), wabah Gizi Buruk di Pengunungan Bintang tahun 2014,(67 anak mati),wabah Serampa di Deiyai 2017,(47mati), dan terakhir wabah Campak di Asmat 2017,(78 mati), Aapakah karena datang bangsa sing di tanah Kami seperti suku suku diatas atau karena apa?

Di Indonesia, ada wartawan yang prihatin dengan kita pu kondisi di tanah Papua sehingga di Jakarta, Kamis 25 Januari 2018 para wartawan ini tanya kepada Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto mengenai wabah yang terus terjadi tersebut usai upacara pelepasan Satgas Kesehatan TNI yang akan membantu mengobati warga Asmat yang kenah wabah virus Capak di Lanud Halim Perdana kusuma Jakarta Timur.

Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto ditanya begini; APAKAH YANG TERJADI DI PAPUA DAN DI ASMAT ITU YAITU WABAH ITU MERUPAKAN BAGIAN DARI PERANG BIOLOGI?, yaitu sebuah perang gaya baru yang dimaksudkan untuk membunuh atau melumpuhkan daya tahan manusia, hewan, dan tumbuhan?. Dengan alasan, ada negara asing yang menginginkan Papua lepas dari Indonesia. Panglima TNI hanya berharap, wabah penyakit di Asmat bukan termasuk perang biologi. Menurutnya; apa yang di tanyakan tadi yaitu wabah penyakit di Asmat yang ada indikasi perang biologi, mudah-mudahan tidak terjadi,kata Hadi. Saat ini, kata dia, yang TNI pikirkan adalah menyelamatkan warga Asmat terkena gizi buruk dan wabah penyakit campak. "Yang kita pikirkan pertama bagaimana kita menyelamatkan saudara-saudara kita dulu disana," ujarnya.

Padahal, sebelum-nya, Kamis tanggal 9 November 2017, Jenderal Gatot Nurmantyo saat menjadi Keynote Speaker dalam seminar 'Ketahanan Kesehatan Global Dalam Perspektif Pertahanan Negara' di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, saat menjabat sebagai Panglima TNI mengatakan; saat ini proxy war menyerang berbagai aspek termasuk kesehatan sebagai media untuk menghancurkan suatu bangsa dan negara melalui biocrime, biowarfare dan biotero rism. Proxy war sudah memanfaatkan perang biologi dengan meman faatkan bakteri,virus,jamur,toksin dan lain nya. Dengan itu akan dapat menurunkan kualitas tumbuhan,hewan dan juga manusia, bahkan mematikan," katanya. Apalagi negara Indonesia yang luas dan terdiri dari 17 ribu lebih pulau dan rentan bagi penyebaran penyakit menular global. Karena itu, Gatot menghimbau,agar ancaman ini perlu di waspadai dan ditangani dengan cepat.

Pace mace dorang, kamu masih ingat to, tahun 2009 , Siti Fadila Supari, Menteri Kesehatan Indonesia pernah terbitkan sebuah buku dengan judul : SAATNYA DUNIA BERUBAH ”Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung” atau It’s Time for the World to Change. Buku ini di cetak sebanyak 2000 eksemplar dalam bahasa Indonesia dan Inggeris dan terjual habis ibu sehingga ibu menteri mencetak ulang buku ini hingga 7 (tujuh) ribu buah.

Yang membuat buku ini laris terjual di pasaran dan di minati banyak orang karena,dia menceritakan, KEMENKES RI menjual 58 virus dari penyakit menular di Indonesia kepada WHO (World Health Organization) melalui perjanjian Global Influenza Survei lance Network (GISN), namun virus yang dikirim kepada WHO tersebut telah dirubah dan dikembalikan dalam bentuk kelontongan. Kemudian di tahun 2007 saat terjadi wabah Flu Burung di Indonesia, hasil penelitian membuktikan, Virus Flu burung Indonesia lebih ganas dari pada Virus Flu Burung negara lain, sehingga dengan cepat WHO meminta Virus Flu Burung Indonesia (DNA H5N1) itu, namun Siti Fadila Supari menolak untuk berikan Virus itu dengan alasan, hasil dari virus yaitu vaksin yang di hasilkan WHO, di jual kepada perusahaan Farmasi di Amerika dan di patenkan oleh mereka, sehingga Vaksin yang di hasilkan oleh virus tersebut dibeli mahal kembali dengan harga mahal oleh negara Penderita (affected countries). Kemudian, data virus flu burung sequencing DNA H5N1 yang disimpan WHO CC tidak dapat di akses lagi oleh para ilmuwan, bahkan data itu oleh WHO uniknya disimpan di Los Alamos National Laboratory di New Mexico, yang berada dibawah Kementerian Energi AS dan di laboratorium inilah duhulu di tahun 1940-1945 Amerika merancang Bom Atom atau Nuklir untuk menghancurkan kota Hiroshima dan Nagasaki di Jepang. Sehingga Fardila mempertanyakan, data Virus yang di berikan tersebut untuk membuat vaksin atau senjata kimia?.

Kemudian dalam buku ini juga menceriterakan, Siti Fadilah terus mengejar WHO agar mengembalikan 58 virus asal Indonesia yang konon telah di tempatkan di Bio Health Security, yaitu lembaga penelitian senjata biologi Pentagon Amerika Serikat. Sehingga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta Siti Fadila menarik buku dari peredaran, padahal “Bukunya sudah habis dan tidak mungkin lagi menarik dari peredaran. Bahkan Pemerintah AS dikabarkan menjanjikan imbalan peralatan militer berupa senjata berat atau tank jika Pemerintah RI bersedia menarik buku setebal 182 halaman itu. Kemudian dalam kesempatan yang sama, tanggal 16 Oktober 2009 Duta Besar Amerika Serikat di Jakarta, secara resmi melayang surat kepada KEMENKES RI, bahwa pihaknya telah menghentikan Operasi Naval Medical Research Unit 2 (Namru-2) yang beralamat di kompleks Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan di Jl. Percetakan Negara, Jakarta.
NAMRU-2 adalah sebuah laboratorium penelitian biomedis yang meneliti penyakit menular demi kepentingan bersama Amerika Serikat dan Departemen Kesehatan RI, serta komunitas kesehatan Internasional yang didirikan pada tahun 1970 sesuai permintaan Departemen Kesehatan RI. Kegiatan penelitian bersama ini menitik beratkan pada Campak, cacar, influenza, Diare, malaria, penyakit akibat virus seperti demam berdarah, infeksi usus dan penyakit menular lainnya termasuk flu burung dan berhubungan dengan penyakit-penyakit tropis yang terjadi secara alamiah.

Surat dari Dubes Amerika diatas menyusul, KEMENKES RI tahun 2005 secara resmi menghentikan operasi NAMRU-2 ini, dengan alasan, pusat penelitian yang meneliti virus oleh Angkatan Laut AS ini keberadaan mengganggu kedaulatan Indonesia, selain Menkes telah melarang semua rumah sakit di Indonesia agar tidak mengirimkan sampel virus flu burung ke laboratorium NAMRU 2, dengan alasan, kontrak kerja sama dengan Namru telah berakhir sejak Desember 2005.
Pakar intelijen Indonesia Laksamana Muda (Purn) Subardo tetap meyakini keberadaan laboratorium medis milik angkatan laut AS, NAMRU-2 di Jakarta ini merupakan alat intelijen AS. Hal ini di yakini Subardo berdasarkan penilaiannya selama lebih dari 30 tahun bekerja di bidang intelijen serta pernah menjabat sebagai Kepala Lembaga Sandi Negara (Lemsaneg) tahun 1986-1998.” Kalau saya yakin, itu ada motif intelejen dari Amerika”. Saya kan kerja dibidang intelejen ini sejak masih letnan hingga bintang dua (Laksanmana Muda) lebih dari 30 tahun kata Subardo di sela sela seminar hari kesadaran keamanan Informasi (HKKI) di Fakultas MIPA UGM Yogyakarta Jumat 24 April 2008 kepada awak media.

Apakah yang terjadi di Papua adalah Perang Biologi? Mungkin esai ini saya minta Septinus George Saa Putra Papua pemenang lomba First Step to Nobel Prize in Physics pada tahun 2004 dari Papua yang bisa menjawab Pertanyaan Ini!!!!
Mohon Jawabannya.

Repost dari Sumber: facebook.com/