STIGMA SEPARATIS DAN MAKAR BAGI PAPUA TIDAK RELEFAN LAGI

STIGMA SEPARATIS DAN MAKAR BAGI PAPUA TIDAK RELEFAN LAGI
by. Albertho Boikaway
Papua Federal News

23/12/2018 ; 12 : 31

PFN.

Separatisme politis adalah suatu gerakan untuk mendapatkan kedaulatan dan memisahkan suatu wilayah atau kelompok manusia (biasanya kelompok dengan kesadaran nasional yang tajam) dari satu sama lain (atau suatu negara lain). Istilah ini biasanya tidak diterima para kelompok separatis sendiri karena mereka menganggapnya kasar, dan memilih istilah yang lebih netral seperti determinasi diri / Self Determination.

Gerakan separatis sering merupakan gerakan yang POLITIS dan DAMAI. Berdasarkan Perintah Presiden Pertama Ir. Soekarno tanggal 19 Desember 1961, Indonesia MENGANEKSASI wilayah Kedaulatan Rakyat Bangsa Papua melalui Kekuatan Militer TNI – POLRI dan Perjanjian Internasional ( New York Agreement ) maka, Tanah dan bangsa Papua telah menjadi bagian dari NKRI. Sejak saat itu juga, secara hukum dan politik Indonesia berhak memberi lebel / stigma separatisme kepada kelompok, organ atau faksi yang berjuang untuk mendirikan sebuah Negara Papua yang Merdeka dan Beraulat terpisah dari NKRI. Inilah AKAR Penyebab masalah konflik berkepanjangan antara Jakarta – Papua hingga saat ini.

Kongres Rakyat Papua 3 merupakan momentum di mana lebel / stigma SEPARATIS, MAKAR terhadap gerakan Papua Merdeka harus dipertimbangkan kembali. Secara hukum, politik dan Demokrasi Kongres Rakyat Papua 3 dan Pernyataan Sepihak / Deklarasi / UDI dalam bentuk NEGARA FEDERAL REPUBLIK PAPUA BARAT adalah SAH secara hukum publik Internasional. Pertanyaannya, apakah dampak kerugian yang akan terjadi bagi Indonesia, jika Rakyat Bangsa Indonesia dan Pemerintahnya MENGAKUI KEDAULATAN Rakyat Bangsa Papua dan mengatur peralihan kekuasaan administrasi Pemerintahan dari NKRI kepada NFRPB ? Bukankah akan ada hubungan kerja sama bilateral antara 2 bangsa / Negara Indonesia dan Papua untuk semua aspek kehidupan dalam tatanan yang setara sebagai mitra dan saling menguntungkan ?

Surat tawaran Negosiasi DAMAI antara NFRPB dan NKRI adalah solusi yang sangat BIJAK untuk mengakhiri konflik berkepanjangan Papua - Jakarta. Namun, pihak NFRPB menyadari bahwa masalah ini bukan urusan SBY atau JOKOWI seorang. Ini adalah masalah NKRI yang di dalamnya ada Sistem Pemerintahan ( Perangkat Organisasi dan aturan ) dan juga ada rakyat. Maka dengan sangat BIJAK pulah, Presiden NFRPB. Forkorus Yaboisembut, S.Pd, menyampaikan surat tawaran Negosiasi yang terakhir No. o10608117/P.NFRPB, tertanggal 08 Juli 2017, secara garis besar menyampaikan 2 hal penting, yakni ;
1) NFRPB mohon pamit untuk melobi kawasan sesuai Piagam PBB pasal 33 ayat 1 dan 2 dan pasal 35.
2) NFRPB juga melakukan Penataan Struktur Pemerintahan dalam Negeri.

Masalah mendasar Papua dan Jakarta adalah SENGKETA WILAYAH POLITIK KEDAULATAN. Maka, tidak mungkin dapat diselesaikan antara Papua dan Indonesia saja, tetapi harus dikembalikan ke forum Majelis Umum PBB. Dari forum itu Papua dimasukan ke NKRI, maka melalui forum itu juga masalah Papua - Jakarta harus di bahas kembali untuk menemukan solusi yang seadil - adilnya.

Semoga tahun 2019 ada harapan baru dalam menangani konflik yang berkepanjangan, banyak korban nyawa, harta benda. Sangat melelahkan tetapi tidak ada yang mau mengalah. TUHAN Yesus Kristus Menyertai kita sekalian. ( boy )

( foto bersama Presiden NFRPB, saat Ibdah Bersama MAP menyongsong Natal 19 Desember 2018 bertempat di Kantor Sementara Sekertariat NFRPB, d/a, jln Batu 2 kamp. Sabron Yaru, distrik Sentani Barat / Dok Sek Neg ) NFRPB

One Peope One Soul

0 Response to "STIGMA SEPARATIS DAN MAKAR BAGI PAPUA TIDAK RELEFAN LAGI"

Post a Comment

Catatan Untuk Para Jejaker
  • Mohon Tinggalkan jejak sesuai dengan judul artikel.
  • Tidak diperbolehkan untuk mempromosikan barang atau berjualan.
  • Dilarang mencantumkan link aktif di komentar.
  • Komentar dengan link aktif akan otomatis dihapus
  • *Berkomentarlah dengan baik, Kepribadian Anda tercemin saat berkomentar.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

loading...

Iklan Bawah Artikel