$type=grid$meta=0$readmore=0$snippet=0$count=3$show=home

Ideologi Kematian Keluarga Teroris

Aksi teroris yang dilakukan oleh satu keluarga bisa jadi baru pertama kali di dunia. (CNN Indonesia/Andry Novelino) Jakarta - Metode ki...

Aksi teroris yang dilakukan oleh satu keluarga bisa jadi baru pertama kali di dunia. (CNN Indonesia/Andry Novelino)

Jakarta - Metode kinship atau rekrutmen melalui jalur keluarga untuk aksi terorisme bukan barang baru. Bom Bali 2002 dilakukan oleh trio bersaudara: Ali Ghufron, Amrozi and Ali Imron.

Remaja terlibat dalam jaringan teror juga bukan yang pertama kalinya di Indonesia. Beberapa di antara mereka terlibat dalam jaringan ISIS dalam serangan bom Thamrin 2016 dan juga jaringan Bahrun Naim di Solo.

Upaya melibatkan perempuan untuk aksi teror pun pernah dicoba pula oleh jaringan ini dengan merekrut Dian Yulianti Novi, mantan pekerja migran yang dipersiapkan menjadi 'pengantin' di Istana Presiden tahun 2016.


Namun, tiga aksi terorisme dilakukan oleh tiga keluarga sekaligus melibatkan perempuan dan anak-anak dalam rentetan teror di Surabaya, ini adalah fenomena baru yang bisa jadi pertama kali di dunia.

Padahal, berdasarkan foto keluarga yang beredar di berbagai platform media sosial, mereka tampak sebagai keluaga 'normal' dan bahkan kelas menengah.

Sebagai bapak dari dua anak, saya tidak habis pikir: bagaimana mungkin orang tua tega mengorbankan anak-anak mereka sendiri untuk sebuah ideologi? Bagaimana menjelaskan proses radikalisasi mereka?

Untuk memahami peristiwa tragis di atas, barangkali kita bisa meminjam fenomena orang berpindah aliran dalam agama (dari NU menjadi Muhammadiyah), berganti agama (dari Kristen menjadi Muslim atau sebaliknya) atau bahkan meninggalkan agama sekali pun (menjadi atheis).

Artinya fenomena orang berubah keyakinan atau memilih sebuah ideologi tertentu itu merupakan hal lumrah terjadi dalam kehidupan sosial manusia. Mereka yang melakukannya biasanya melalui sebuah proses yang panjang dan berliku.

Aksi damai digelar untuk mengenang para korban dalam rentetan teror bom yang mengguncang Surabaya pada Minggu dan Senin kemarin. (CNN Indonesia/Andry Novelino)

Biasanya diawali dengan sebuah "pemantik" kejadian yang bersifat subjektif pada diri para pelaku. Dalam bahasa Islam, mereka ini sering disebut mendapatkan 'hidayah' (istilah bahasa Arab yang berarti petunjuk) atau dalam bahasa Inggris disebut 'epiphany' (kesadaran baru).

Dengan analogi tersebut, maka ketiga keluarga yang menjadi pelaku teror ini pada dasarnya pelan-pelan berpindah dari tradisi keberagamaan mainstream (umum) ke dalam tradisi keberagamaan subculture (khusus).

Mereka yang hidup dalam masyarakat subculture ini mempunyai dunia sendiri. Artinya, meskipun mereka ini secara fisik bersama masyarakat umum, namun imajinasi, cara pandang dan pilihan-pilihan hidup mereka sangatlah berbeda.

Dalam tingkat praktis, mereka mempunyai tata cara hidup yang hanya dipahami, diapresiasi dan dipraktekkan oleh mereka sendiri. Oleh karena itu, apa yang masyarakat umum anggap buruk, bisa jadi justru sebaliknya bagi mereka.

Lalu kenapa mereka bisa memilih hidup dalam subculture sementara mereka juga menikmati kehidupan kelas menengah di Surabaya? Apakah ini berarti bahwa marginalisasi itu tidak mesti dalam aspek ekonomi namun juga dalam hal sosial dan politik?

Jika penuturan sahabat SMA dari Dita (bapak dari pelaku bom gereja) yang viral di media sosial itu benar, maka Dita sudah lama merasa tidak 'sreg' hidup dengan tata nilai kemajemukan yang diusung oleh Pancasila.

Ia merasa termarginalkan secara sosial politik bukan secara ekonomi. Baginya, Indonesia ini adalah negara sekuler karena tidak berlandaskan pada syariat Islam dan oleh karena itu harus dilawan.

Nah, ketika mereka hidup dalam subculture seperti ini, ada sebuah sistem politik baru ditawarkan dengan label dagang 'khilafah Islamiyah' dideklarasikan di Suriah oleh Abu Bakar Al Baghdadi pada Juni 2014.

Orang-orang yang sudah muak dengan sistem Pancasila ini lantas tergerak untuk menjadi bagian dari sistem politik baru tersebut. Apalagi mereka mendapatkan angin segar dari suasana politik identitas yang meninggi akhir-akhir ini di Indonesia.

Pada saat yang sama, media sosial menghadirkan sebuah 'hyper reality' kepada mereka melalui video produksi dari ISIS sekelas Hollywood yang menjanjikan kehidupan yang lebih Islami dan terjamin pula secara ekonomi.

Sebanyak 28 orang tewas, termasuk pelaku, dalam tragedi teror di Surabaya, yang diawali bom di tiga gereja. (Reuters/Beawiharta)

Barangkali dalam proses menunggu kesempatan hijrah atau pindah ke Irak dan Suriah ini mereka menjadi bagian subculture Jamaah Anshorut Daulah (JAD)--istilah bahasa Arab yang berarti 'kelompok pembela negara (ISIS)'.

Meminjam istilah Ben Anderson, mereka ini adalah 'imagined community'-nya ISIS. Maksudnya, fisik mereka berada di Indonesia tapi berangan-angan menjadi bagian dari daulah (ISIS). 'Junud daulah' atau para tentara ISIS adalah julukan mereka.

Untuk menunjukkan ke-eksis-an mereka itulah aksi teror itu dilakukan. Mungkin kita bisa pahami jika kemudian yang siap mati itu para lelaki dari pendukung ISIS. Tapi mengapa mereka melakukan aksi ini beramai-ramai satu keluarga?

Kira-kira dialog seperti apakah yang terjadi antara suami kepada istri, bapak dan ibu kepada anak sebelum beraksi?

Apakah mereka mengatakan: "Kita akan bertemu di alam surgawi jika mereka mati dalam aksi bom bunuh diri kita?"

Lalu bagaimana istri dan anak-anak bisa menurut perintah sang bapak? Karena saya curiga peran bapak lebih dominan dalam tradisi subculture ini.

Untuk memahami fase kesiapaan untuk mati ini, kita bisa melihat bagaimana proses bunuh diri masal beberapa cult (sekte aliran sesat) yang melakukan bunuh diri massal seperti pada kasus sekte David Koresh di Texas, Amerika Serikat atau sekte Ordo Kuil Matahari (Solar Temple) di Swiss dan Kanada.

Meskipun mereka tidak melakukan tindak terorisme kepada orang lain yang tidak berdosa untuk mencapai tujuan politik, namun ada kemiripan dalam hal cara pandang. Mereka sama-sama meyakini bahwa kehidupan dunia ini sudah sangatlah rusak dan percaya bahwa ada sebuah kehidupan yang lebih setelah kematian mereka.

Cara pandang yang menekankan kehidupan akhirat secara berlebih dan menafikan pentingnya merayakan kehidupan dengan cinta dan kasih kepada sesama ini ternyata bisa membuka celah masuknya teologi kematian seperti yang diyakini oleh tiga keluarga pelaku teror di Surabaya itu.

Ironisnya, sebaran ideologi kematian ini dirayakan dan dielu-elukan secara masif dalam masyakarat subculture ini melalui jaringan media sosial mereka baik yang terbuka seperti Facebook, Twitter, Instagram atau yang tertutup seperti Telegram.

Jelas ini ancaman keamanan yang serius di Indonesia, apalagi negara kita akan menjadi tuan rumah ajang olah raga dunia, ASIAN GAMES.

Bisa jadi reputasi kita sebagai negara yang aman runtuh jika kita sebagai bangsa tidak menjadikan ideologi mengerikan ini sebagai musuh bersama.

Ironisnya masih ada ribuan orang yang yakin bahwa atror yang terjadi di Surabaya ini hanyalah "permainan keji para inteljen", "pengalihan isu", "ternak teroris" dan ungkapan negatif lainnya.

Oleh karena itu, menurut saya, langkah awal kita menyelesaikan masalah ini adalah mengakui dengan terbuka dan jujur bahwa ada sebagain dari saudara-saudara kita ini terpesona dan memilih hidup menjadi bagian subculture masyarakat yang memuja teologi kematian yang menggerikan ini. Wallahu a'lam. (stu)

Noor Huda Ismail
Pendiri Yayasan Prasasti Perdamaian dan kandidat PhD Politik dan Hubungan Internasional Monash University, Melbourne.
Sumber: https://www.cnnindonesia.com

COMMENTS

BLOGGER
Flow -  Progress
Name

#LetWestPapuaVote,7,5 Hal,26,Aborigin,4,Aceh,17,Adat,7,Afrika,1,Air Terjun,1,Akademisi,3,Aksi,107,Aktivis,54,Aktual,4,Al Jazeera,3,Ambon,2,Amerika Serikat,23,Amnesti Internasional,5,Amnesty,1,AMP,87,Amungme,2,Anak Fakfak,5,Anak Kembar,2,Anak Papua,24,Analisa,2,Ancaman,10,Aneh,27,Aneksasi,19,Anglikan,1,Antaranews,7,Antarapapua,1,Antroplogi,1,Aparat,9,APEC,1,AprilMob,1,Arab Saudi,5,Arahmah,2,Aristokrasi,1,Arnold Clemens Ap,1,Arsip Rahasia AS,2,Arso,1,Arti Mimpi,1,Artikel,6,Artis,6,ASDP,1,ASEAN,2,Asia Pasifik,2,Asia Tenggara,2,Asian Games 2018,1,Asing,1,Asmat,6,ASNLF,1,Asrama,3,Astronaut,1,AU,1,Auckland,2,Australia,40,Awards,1,Awepa,1,Ayat Alkitab,1,Ayub Waker,3,Badai,7,Bagan,1,Bagdad,1,Baghdad,1,Bakar Batu,1,Bakar Lilin,2,Balairungpress,1,Bali,3,Balim,1,Bandung,6,Bangsa Papua,109,BangsaMoro,1,Banjir,2,Barack Obama,3,Barcelona,3,BBC,5,BBM,2,Beasiswa,1,Beat Papua,2,Bebas,1,Bekasi,1,Belajar,2,Belanda,7,Bencana,2,Bendera,15,Beni Pakage,1,Benny Giay,3,Benny Wenda,10,Bentrok,3,Bentuk Negara,8,Berita,115,Berita8,1,Beritaekspres,1,Beritaenam,2,BeritAnda,1,Beritsatu,16,Biak,9,Bintang Kejora,15,Bintang Papua,34,Bintuni,1,Biodata,1,Biografi,1,Bisnis,1,Blokade,1,Blokir,3,BMP,4,BNPB,1,Bob Carr,1,Boikot,9,Bola,2,BOM,8,Bomberay,2,Borneo,4,Boston,3,Bougainville,1,BPS,2,Brasil,3,Brexit,1,Brimob,4,Brussels,1,Brutal,2,Buah Merah,1,Budaya,1,Bukti,1,Buku,6,Buku Papua,7,Bulan,1,Buronan,1,Buruh,5,Burung Cendrawasih,4,CahayaPapua,2,Cak Nun,1,Caledonia,1,California,1,Cambuk,1,Campaign,4,Capres,1,Catalonia,8,Catatan,182,Cendrawasih,1,Cepos,4,Cerita,4,Chechnya,1,China,3,Cita Citata,10,CitizenJurnalis,1,CNN,13,Computer,3,Contact,1,Cuaca,2,Culture,1,Curahan Hati,4,Curahan Hatiku,4,Daftar,2,Dailipost,1,Dana,1,Dana OTSUS,4,DAP,3,Dayak,1,Deiyai,13,Deklarasi,3,Dekolonisasi,4,Delegasi,3,Demokrasi,15,Demokrasi Kesukuan,2,Densus 88,1,Deplu,2,Depok,1,Deportasi,2,Detiknews,18,Dewan Adat,1,Dewan Gereja,3,Dewan HAM,7,Dewan Komite,1,Dialog,31,Diplomasi,1,Diplomat,8,Diskriminasi,2,Diskusi,2,Disnaker,1,Distrik Kokas,1,DNA,1,DNP,2,Doa,2,Doaku,2,Doberai,14,Dogiyai,3,Dokumenter,1,DOM,1,Dominion,1,Download,1,DP,2,DPD,1,DPR,8,DPRP,8,Dr.Thom Wainggai,2,Dubes,9,Duka,9,Dukungan,12,Edisi,1,Edo Kondologit,1,EdudaNews,1,Ekonomi,13,Eksekusi,24,Ekspor,1,El-Gibbor Ministry.net,5,ELSHAM,1,Emas,1,Emtv,1,entertainment,3,Epen Cupen,1,Eramuslim,1,Eropa,7,ESDM,2,Etnohistori,1,Facebook,23,Fakfak,49,Fakfak Picture,6,Fakta,4,Farhat Abbas,1,Fatwa,1,Featured,1,Federal Papua,13,Federasi,10,Fiji,10,Filep Karma,5,Filipina,2,Film,3,Filsuf,1,Flotilla,8,FNMP,1,Foker LSM,1,Forkorus Yaboisembut,3,FORMAT,1,Foto,4,FPI,3,FPM-TF,2,Freedy Numberi,1,Freeport,60,FRI-West Papua,37,FRI-WP,14,Front Pembela Islam,2,Fungsi Otak,1,Gadis,1,GAM,1,Gambia,1,Garam,1,GARDA BAWA,1,Garuda,3,Gatra,2,Gaza,1,Gempa,5,Gempar,6,Gender,1,Generasi Papua,22,Gereja,19,GIDI,3,GKI,1,Globalvoicesonline,1,Golkar,1,GPI,1,Gresik,1,Gresnews,1,GRPB,1,Gubernur,10,Guyana,1,Habelino,4,Habib Rizieq,4,Hacker,16,Hai Tanahku Papua,1,HAM,78,Hamah Sagrim,1,Hamas,4,Hanter,1,Hari Perempuan Sedunia,5,Harian Terbit,2,Herman Wainggai,8,Herman Wanggai,41,Hip Hop,3,Hipwee,1,HKBP,2,Hoax,1,Honiara,3,HPH,2,HRW,1,HTI,1,Hubert Mabel,1,Hukum,23,Hukuman Mati,7,HUT INDONESIA,12,HUT KNPB,5,HUT PAPUA,43,HUT PI,5,HUT RI,1,Hutan,3,Ibadah,3,Ibu,1,Idiologi,5,Idul Fitri,1,Ikan,1,Ilegal,3,Iman,1,Imigrasi,3,imparsial,1,Imperialis,1,India,2,Indonesia,388,Indonesianreview,5,Indopos,1,Indoprogres,4,Indoprogress,3,Info Papua,9,Inggris,12,Injil,4,Integrasi,2,INTEL,1,intelijen,3,Internasional,90,Internet,2,Interpol,1,Investasi,2,IPMAPA,10,IPWP,1,Irak,6,ISIS,25,Islam,1,Islamabad,1,Ismail Asso,3,Israel,17,Istilah,2,Italia,1,Itoday,1,Jacob Rumbiak,4,Jakarta,33,Jalan,2,Jambi,1,Jaringnews,1,Jawa,2,Jawapos,3,Jayapura,49,Jayawijaya,1,JDP,9,Je.Wenda,1,Jefry Wenda,1,Jenewa,6,Jenis Kekuasaan,3,Jenius,1,Jepang,3,Jerat Papua,2,Jerman,4,Jhon Kei,2,Jimmy Demianus Ijie,1,JK,1,Jogja Berduka,1,Jogjakarta,25,Jokowi,102,JPNN,15,Jubi,104,Jubir NRFPB,3,JURNAL3.COM,1,Jurnalis,9,JurNas,1,Kabar24,1,Kae,2,KAI,1,KAIMANA,5,Kajian,1,Kaleb,1,Kalimantan,3,Kamasan,10,Kampanye,3,Kanal Satu,1,Kantor,3,Kapitalis,1,Kapolda,17,Kapolri,1,Kasih Tuhan,1,Kasus,17,kata Bijak,8,Kata Gambar,1,Kataku,17,Katolik,3,Kawan,1,KBR68H,1,Kebebasan,2,Kebersamaan,1,Kebijakan,3,Kebohongan,2,Kecelakaan,6,Kedaulatan,1,Kedubes,7,Keerom,1,Kejahatan,4,Kejenuhan,1,Kekerasan,30,Kematian,2,Kemenkumham,2,Kemerdekaan,5,Kendeng,3,Kepribadian,2,Kereta Api,4,Kerjasama,3,Kerusakan,1,Kesaksian,1,Kesehatan,6,Kewarganegaraan,1,Kingmi,1,KIP,1,Kisah Cinta,2,Kisah Perjuangan,5,Klasis,1,Kleptokrasi,1,KNPB,139,KNPB Konsulat Indonesia,3,KNPI,7,Kodam,1,Koleksi,1,Koloni,1,Kolonialisme,4,Kominfo,5,Komite Independen Papua,1,Komnas HAM,14,Komnas TPNPB,13,Komoro,2,KOMPAS,34,Kompasiana,4,Komunis,1,Konfederal,1,Konfederasi,3,Konflik,6,Kongres,7,Kongres Rakyat Papua III,11,Konservasi,1,Konsolidasi,1,Konspirasi,3,Konsulat,1,KONTRAS,6,Kopi,2,Koran Kejora,1,Korban,58,Korea Selatan,1,Korea Utara,4,Korowai,2,Korupsi,1,Koruptor,2,KP-FMK,1,KPP,1,KRI Bung Tomo,1,KRIMINAL,2,Kristen,2,Kronologi,4,KTP,2,KTT,3,Kualisi Ham,2,Kudeta,1,KUHP,1,Kulonprogo,2,Kumparan,1,Kumpulan Jepretanku,1,Kunjungan,20,Kupang,1,Kurdi,2,Lagu Fakfak,1,Lagu Kebangsaan,3,Lambang,1,Laporan,6,Larangan,5,LBH,18,LBH Papua,1,Leonie Tanggahma,1,Letter,3,Letusan,1,Liberalisme,2,Lifestyle,1,LIPI,6,Liputan6,12,Lirik Lagu,14,LITP,1,LMA,2,LNG,1,Logistik,1,London,5,Longsor,1,LP3BH,9,LPSK,1,LSM,1,Luar Negeri,68,Mahasiswa,84,MAI,4,Majalah Selangkah,3,Makanan,1,Makar,18,Makasar,4,Maklumat,3,Mako Tabuni,1,Malam Kudus,1,Malang,3,Malasya,1,Malaysia,8,Malu,1,Maluku,8,Malware,1,Mama,2,Mamberamo,1,Mambesak,1,Mambunibuni,1,Manado,10,Manajemen,6,Manajemen Konflik,3,Mandat,1,Manifest,1,Manila,1,Manokwari,56,Mansinam,2,Manusia,1,Markus Haluk,2,Markus Yenu,2,Marshal Island,1,Marthen Goo,2,Mascho-Piro,1,Massa,1,Mata kuliah Ilmu Politik,3,Mataram,1,Materi,1,Mayday,8,Mbaham,1,Media,11,Media Asing,2,Mediasi,2,Medsos,11,MeePago,1,Megawati,1,Melanesia,9,Melbourne,5,Melindo,4,Memori,1,Mendopma,1,Menkeu,1,Menkominfo,2,Menkopolhukam,4,Menlu,5,Menpora,1,Merauke,15,Merdeka,6,Merdeka.com,4,MetroNews,13,Mifee,1,Militer,17,Militerisme,4,Militeristik,2,Mimika,2,Mimpi,1,Misteri,4,Mobokrasi,1,Monarki,1,MOP,11,Motivasi,14,Motivasi Dan Dasar Cinta,4,MPR,1,MRP,3,MRP-PB,2,MSG,53,Muhamadiyah,2,MUI,3,Mural,1,Musik,7,Musisi,4,Mutiara Hitam,1,My Photos,24,Nabire,11,Naftali Edoway,1,Nama,2,Napalm,1,NAPAS,6,Narkoba,11,Nasional,8,Nasionalis NKRI,3,Nasionalis Papua,16,Natal,9,Natalius Pigai,7,Nauru,1,Navi Pillay,1,Negara,7,Negara Gagal,3,Negara Kesatuan,3,Negara Konfederasi,2,Negara Papua,48,Negara Rakyat Nusantara,55,Negara Serikat,1,Nelayan,1,Neolib,1,New York,7,New Zealand,5,news,1,NFRPB,73,Nobel,2,Nomor1,1,Novel,1,Nowela,1,NRN,57,NTT,2,Nusantara,7,Nusantaratimes,1,NYIA,1,OAP,8,Oase,1,Octoviaen Gerald Bidana,1,Oikoumene,3,Okezone,14,Oklokrasi,1,Olah Raga,3,Olah Vokal,1,Oligarki,1,Ombak,1,Onestep-news,1,Operasi,2,Operasi Militer,2,Opini,114,OPPB,1,Orasi,1,Organisasi,14,Ormas,1,Otak,1,OTK,1,Otonomi,1,Otsus,7,Otsus Plus,9,Pabrik,1,Padang,1,Paguyuban,1,Pahlawan,1,Pajak,1,Pakar,2,Pala,1,Palestina,12,Palingkeren.com,1,Palsu,7,Palu,1,Pamer Voice,4,Pancasila,4,Pandanganku,44,PANGDAM,1,Panggilan,1,Panglima,3,Paniai,12,Panitia Natal 10,1,Panji,1,PAP,1,Papua,297,Papua Barat,3,Papua Bersatu,3,Papua Menggugat,5,Papua Merdeka,64,Papua New Guinea,6,Papua Post,16,Papuan,3,Parlemen,3,Parlemen Rakyat Daerah,8,Parlementer,2,Partai Lokal,2,Pasifik,20,Paskah,1,Pastor,2,PASTOR JOHN DJONGA,2,Pastor Neles Tebay,7,Patriot,1,PBB,67,PBHI,1,PDP,1,Pdt. Socratez S. Yoman,30,Pejua,1,Pejuang,5,Pekabran Injil,6,Pelajar,1,Pelanggaran,21,Pelantikan,4,Pelopor,1,Pemakaman,2,Pembacokan,1,Pembajakan,2,Pembakaran,10,Pembangunan,6,Pembebasan,2,Pembubaran,1,Pembunuhan,13,Pemekaran,7,Pemerintahan,7,Pemilih,1,Pemilu,2,Pemimpin,14,Pemimpin Terlama Di Dunia,1,Pemuda Papua,1,Penangkapan,85,Penculikan,4,Pencuri,2,Pendatang,2,Pendeta,3,Pendidikan,3,Penduduk,3,Peneliti,2,Penelitian,1,Penembak Jitu,1,Penembakan,54,Pengalamanku,1,Pengamat,5,Pengantar Ilmu Politik,5,Penggusuran,3,Pengungsi,2,Penjajahan,12,Penulis,1,Penyiksaan,3,Pepera,12,Perang,19,Perang Dunia III,1,perasaanku,1,Perawan,1,Perbatasan,4,Perdamaian,2,Perdasus,1,Perempuan,19,Peringatan,2,Peristiwa,2,Perjanjian,6,Perjuangan,7,Pernikahan,2,Pers,6,Persatuan,1,Perserikatan Negara,1,Persipura,4,Persipuramania,3,Perundingan,4,Pesan Group,3,Pesawat,7,Petisi,23,PGI,1,PH,1,Phaul Heger,19,Phoenix,1,Photo,2,Photo Gabungan,4,Photo Jepang,1,Photo Kongres,1,Photo Papua,12,PIA,1,Picture,35,Picture Papua,20,Pidato,8,PIF,9,Pikiranku,5,PIlar Demokrasi,1,Pilgub,2,Pilpres,7,Pinang,1,PKI,2,PKMFP,2,PKS,1,Plutokrasi,1,PMKRI,1,PNG,31,PNPB,1,PNWP,9,Pohon Natal,4,Pojoksatu,1,Polandia,1,Polisi,32,Polisi Nasional Papua,1,Politik,2,Politik Rakyat,3,Politisi,1,Polri,9,Populisme,1,Pornografi,1,Port Moresby,4,Port Numbay,11,Port Vila,7,Portalkbr,4,Pos,1,Posko,3,POSTER,1,Postingan,102,PPR,1,Prabowo,2,Prakata,1,Prancis,3,PRD,16,Prediksi,1,Preman,4,Presiden,12,Presidensil,2,Profil Negara Papua,3,Profile,2,Program Ke Kampung,1,Proklamasi Papua,13,Protektorat,1,PRPPB,16,PS,2,PSSI,1,Puisi,41,Puisi Cinta,21,Puisi Cinta Dan Perasaan,8,Puisi Duka,1,Puisi Kebahagiaan,3,Puisi Kehidupan,5,Puisi Kerinduan,2,Puisi Kritik,1,Puisi perasaan,3,Puisi perasaanku,3,Puisi Perjuangan,8,Puisi Perpisahan,1,Pulang,1,Pulau,2,Pulau Manus,1,Puncak Jaya,5,Puncak Papua,1,Quaker,1,Qureta,1,R4,1,Radar Sorong,20,RadarTimika,5,Radio Australia,2,Radio Streaming Papua,1,Radionz,1,Raja Ampat,1,rakyat Papua,4,Ramalan,1,Ranting Patah,2,Rappler,2,Ras Papua,2,Rasis,10,Ratu,1,Referendum,20,Refleksi,5,Reformasi,1,Rekayasa,3,Rekomendasi,1,Renungan,11,Represif,1,Republik Papua,7,REPUBLIKA,6,Resolusi,1,Revolusi,1,Revolusi Budaya,4,Revolusi Papua,1,Rex Rumakiek,1,Riau,3,RMS,10,Rohingnya,1,Roma,2,Roma Agreement,4,RSP,1,RSUD,1,Rupiah,2,Rusia,4,Rutan,1,RUU,3,Sabah,1,Sabun,1,Sagu,1,Sains,3,Saireri,4,Saksi,1,Salatiga,3,Saleh Partaonan Daulay,2,Samoa,2,Sampul Facebook,5,Sandal Jepit,1,Sandera,2,Sarawak,2,Sastra,1,Sawit,1,SBY,1,SDA,1,SDM,1,Sebby Sambon,1,Sejarah,10,Sejarah Indonesia,12,Sejarah Injil Di Papua,2,Sejarah NKRI,7,Sejarah Papua,25,Seks,1,Selpius Bobi,1,Semangat,1,Semangat Papua,2,Semarang,7,Semen,3,Seminar,10,Senator,5,Seni,5,Seni Rupa,1,Senjata,4,Sentani,5,Seruan,38,Serui,9,Seruu.com,1,SETARA,1,Setwapres,2,Sharia,1,SHDRP,1,Shio,1,Siaran Pers,6,Sidang,7,Sifat,1,Sikap,2,Sinar Harapan,2,Sindonews,14,Singapura,1,Sistem Pemerintahan,7,Situbondo,1,Situs,3,Siwalima,1,Skenario,2,SKP-HAM,1,Slanks,1,Smelter,5,SMPP,1,SODELPA,1,Solidaritas,13,Solidaritas Perempuan Papua,5,Solo,1,Solomon,11,SONAMAPPA,2,Sorong,20,Sorotan,2,Sosialisasi,1,Spam,1,Spanyol,5,SPM,3,SPM-PB,2,Sports,4,Sri Lanka,1,Sri Paus,6,SSKM,3,Status Facebook,4,Stigma,1,Stiker,1,Stop Miras,4,Struktur Negara,3,Student,1,Suaka,1,Suara,3,Suara Pembaruan,3,Suara Rakyat,4,Sudan Selatan,1,Sukhoi,1,Sukoharjo,1,Suku,2,SUKU MBAHAM,2,Suku Pedalaman,1,Suku Primitif,1,Sulawesi,3,Sulpap,1,Sultan,2,Suluh Papua,7,Sumpah Pemuda,3,SUP,7,Supiori,1,Surabaya,9,Surakarta,1,Surat,16,Sùrat,1,Suriah,4,Suva,3,Sydney,3,Syria,1,Syukuran,2,Tabrakan,2,Tagor,1,Tahanan,5,TALIBAN,2,Tambang,4,Tambrauw,2,Tami,1,Tanah Papua,3,Tapanews,2,Tapol,10,Teatrikal,1,Teknologi,6,Telkomsel,1,Tembagapura,9,Temp,1,Tempo,15,Tentara,2,Teori,1,Terasing,1,Ternate,1,Teror,3,Teroris,8,Terpidana,2,Tewas,1,Texax,1,Thaha Alhamid,2,The Comens,5,Tidore,1,Tim 7,2,Timika,39,Timnas Papua,1,Timokrasi,1,Timor Leste,4,Timur Tengah,2,Tionghoa,1,Tips,7,Tips Kesehatan,11,Tips-Tips Komputer,11,Tips-Tips Motivasi,9,Tirani,1,Tjahjo Kumolo,1,TMP,1,TNI,29,Tokoh,8,Tokoh-Tokoh,28,Toleransi,2,Tolikara,12,TP,1,TPN/OPM,90,Tradisi,1,Tragedi,2,Transmigrasi,5,TribunNews,17,Trikora,9,TRONDHEIM,1,TRWP,9,TTS,1,Tuduhan,1,Tugu,1,Turki,2,Tuvalu,2,TV Papua,1,TVONE,1,Twitter,2,Uang,1,Ucanews,4,UFO,2,Uganda,1,UGM,2,Ulang Tahun,1,ULMWP,70,UNCEN,9,Undangan,3,Unesco,3,UNGA72,14,Uni,1,Uni Eropa,2,UNICEF,1,UNPO,1,UNTEA,1,UP4B,9,USAID,1,Uskup,3,Ustad Fadlan Garamatan,2,Utikini,2,UU,2,UURWP,1,Valentin’s Day,5,Vanuatu,25,Vatikan,2,Venezuela,1,Veronica Koman,1,Victor Yeimo,9,Vidio,54,Vietnam,1,Virus,3,Visa,1,Visa Papua,1,Vivanews,13,Voanews,7,Wagub,1,Waisai,1,Wall Facebook,13,Wamena,5,Wapres,2,Warta Papua,1,Wartawan,11,Washington,12,Washingtonpost,1,Wasior Berdarah,1,Wawancara,7,WCC,1,Wellington,5,West Papua,69,West Papua Media,1,Western Sahara,1,Willem Wandik,3,Wissel Van Nunubado,16,WNA,1,WNP,1,Wondama,1,wor,1,WORLD,73,WPAN,1,WPNA,8,WPNCL,4,WPNLA,2,WPNYC,1,WPRA,3,WTO,1,WWF,1,Yahudi,1,Yahukimo,1,Yalimo,1,Yaman,2,Yapen,1,Yason Ngelia,3,Yerusalem,3,yogyakarta,71,Yorrys Th. Raweyai,1,Yunani,1,Yusak Pakage,1,
ltr
item
West Papua Blogger: Ideologi Kematian Keluarga Teroris
Ideologi Kematian Keluarga Teroris
https://1.bp.blogspot.com/-PDmPvMUyBh8/Wvp-UkVRVkI/AAAAAAAATFM/6eZjmQf7HcAobC5KtmmxGrgR8jcPin4MgCLcBGAs/s400/Aksi%2Bteroris%2Byang%2Bdilakukan%2Boleh%2Bsatu%2Bkeluarga%2Bbisa%2Bjadi%2Bbaru%2Bpertama%2Bkali%2Bdi%2Bdunia.jpeg
https://1.bp.blogspot.com/-PDmPvMUyBh8/Wvp-UkVRVkI/AAAAAAAATFM/6eZjmQf7HcAobC5KtmmxGrgR8jcPin4MgCLcBGAs/s72-c/Aksi%2Bteroris%2Byang%2Bdilakukan%2Boleh%2Bsatu%2Bkeluarga%2Bbisa%2Bjadi%2Bbaru%2Bpertama%2Bkali%2Bdi%2Bdunia.jpeg
West Papua Blogger
https://phaul-heger.blogspot.com/2018/05/ideologi-kematian-keluarga-teroris.html
https://phaul-heger.blogspot.com/
https://phaul-heger.blogspot.com/
https://phaul-heger.blogspot.com/2018/05/ideologi-kematian-keluarga-teroris.html
true
3552930492203703242
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy