5 Fakta Bangsa Papua itu Penuh Sabar Tapi sampai kapan?

Baca Juga

Setiap bangsa didunia memiliki hak yang sama dalam membangun bangsanya, membangun kehidupan masyarakatnya kearah yang lebih baik. Seminimal mungkin menghindari benturan social antar sesama anak bangsa lain yang ada. Hal ini pula yang dialami bangsa Papua. Semenjak pulau papua dibagi dua oleh bangsa asing lainnya semenjak itu pula klaim dan klaim tanpa keterlibatan dari wakil bangsa Papua dalam menyetujui setiap keputusan itu terjadi. Seakan-akan pulau Papua itu pulau tak berpenghuni. Bangsa asing lainnya terus berperan dalam menguras hasil bumi Papua.

Batas kesabaran dalam segala tindak tanduk bangsa lain atas bangsa Papu semakin menjadi-jadi. Papua bagian barat diambil alih belanda dan dilanjutkan Indonesia sementara bagian timur diambil alih inggris kemudian mengembalikan kemerdekaan Papua bagian timur ini kepada pemiliknya yang hari ini kita kenal dengan nama Papua New Guinea.

Baca juga: Pemerintah Papua Harus Respon Pelecehan Dengan Kebijakan Daerah

Benarkah bangsa Papua itu bangsa yang sabar? Mungkin saja benar, beberapa fakta berikut bisa menjadi alasan bangsa kita adalah bangsa yang sabar. Apa saja fakta-fakta tersebut?

1. Pernjanjian bangsa lain untuk masa depan bangsa Papua

Dalam sejarah bangsa Papua, dikenal ada beberapa perjanjian seperti  Perjanjian Canbera, Perjanjian New York.

2. Pendudukan bangsa lain atas wilayah bangsa Papua
Indonesia mengumandangkan perebutan wilayah bangsa Papua pada 19 desember 1961 dialun-alun kota  Yogyakarta. Relawan dan militer Indonesia dikirim ke Papua untuk memulai penyusupan dan membangun basis untuk melawan belanda sekaligus membangun kekuatan Indonesia di Papua.  Aneksasi atas wilayah Papua berhasil baik dengan dipaksa bergabungnya papua kedalam Indonesia melalui rekayasa pepera 1969.

3. Tuntutan bangsa Papua dan jawaban balik bangsa yang menduduki wilayah Papua
Pada tahun 1999 perwakilan bangsa Papua (tim 100) bertemu dengan presiden Indonesia, saat itu BJ. Habibie lalu menyampaikan maksud dan tujuan akan masa depan bangsa Papua untuk merdeka. Namun jawaban balik tidak pasti dan kemudian dijawab dengan otonomi khusus jilid II.

4. Ruang demokrasi bangsa Papua ditutup
Tahun ke tahun berita paling ramai dari Papua dan jarang terpublish di tv nasional;  pastilah tentang penangkapan aktivis Papua. Perlawanan tentara nasional Papua (TPNPB) dan masrayakarat sipil Papua yang diorganisir oleh aktivis-aktivis Bangsa Papua. Di Papua  Hak berserikat berkumpul dan menyampaikan pendapat dimuka umum terus mendapat tekanan dan dipersempit ruangnya. Kibarkan bendera beresiko di penjara,  berdemo pasti siap-siap dibubarkan apabila isi aksinya mengenai Papua Merdeka. 

5. Penghinaan rasial terus terjadi
Setengah abad bangsa Papua dipaksa menjadi sama dalam nasionalisme bangsa yang mendudukinya. Tanah-tanah adat milik bangsa Papua diubah, perusahan-perusahan besar pencuri kayu, mas dan hasil tambang,  hasil bumi lainnya dikuasai dan terus beroperasi. Rakyat papua tergusur diatas tanah adat miliknya. Didalam kehidupan sehari-hari, penghinaan ras terus terjadi. Tidak hanya untuk kalangan masyarakat dibawah tetapi terhadap tokoh-tokoh Papua yang terus berani menyuarakan masa depan Bangsa Papua.

Baca juga: Pakai Busana Adat Koteka, oknum guru Rahma Wati Komentar "orang utan itu makan apa"

Hinaan yang paling sering yakni orang papua monyet, dll. Seperti pada tahun 2016 di Yogyakarta terjadi pengepungan asrama mahasiswa Papua dan oleh ormas reaksioner menghina dan berteriak keras diluar pagar asrama dengan kata-kata monyet, babi dan separatis. Yang paling terbaru yakni mantan komisioner Natalius Pigai dihina dengan mengedit foto beliau disebelahnya  ditambah gambar monyet. Padahal di Papua bukan tempat asalnya monyet.  Monyet hanya ada di pulau jawa dan bebrapa pulau lain di nusantara.

Masih banyak hal lainnya silahkan ditambahkan hai sesama anak bangsa Papua.

Nah setelah 5 fakta diatas yang kemudian menjadi pertanyaannya seberapa batas kesabaran bangsa kita untuk bersikap. Apakah terus berdiam menerima, atau tergerak bergerak dan menuntut? Atau sabar saja nanti yang diatas yang membalas? Ah sudahlah…..

Saya pikir perpecahan yang menjadi jurang persatuan telah kita akhiri, persatuan nasional untuk pembebasan bangsa Papua telah maksimal.

Maka sudah saatnya bagi segenap bangsa Papua untuk terus membangun kesadaran sebagai bangsa yang siap mandiri, bangsa yang siap merdeka secara politik dan ekonomi. 

Kurang dan lebihnya sekian dulu, silahkan tambah dikolom komentar kalau ada bagian yang kurang.

Salam juang!

Papua Tetap Merdeka.

By. Phaul Heger

Silahkan menanggapi melalui kolom ini dengan bahasa yang santun, link aktif berupa spam dan link p*rno, togel akan dihapus.
EmoticonEmoticon