$type=grid$meta=0$readmore=0$snippet=0$count=3$show=home

Pembantaian Di Papua dan Ancaman 2030

IRONIS! Memang, judul ini sedikit keras, sekeras kepala batunya orang Papua dan sekasar-kasarnya orang Papua. Apa adanya, tanpa tedeng aling...

IRONIS! Memang, judul ini sedikit keras, sekeras kepala batunya orang Papua dan sekasar-kasarnya orang Papua. Apa adanya, tanpa tedeng aling-aling dan munafik. Kami juga bukan manusia tipe kedondong tetapi tipe durian. Kasar di luar halus di dalam. Kami tidak perlu dipaksa berlanggam Jawa terlihat seperti halus, terlihat harmoni.


Jokowi sampai saat ini tidak pernah bicara tentang persoalan manusia dan bagaimana menyelamatkan manusia Papua serta menghentikan kejahatan kemanusian dan menciptakan prospek perdamaian. Jokowi lebih banyak eksploitasi penderitaan infrastruktur tentang Nduga sebuah kabupaten kecil di Papua yang memang satu-satunya ruas jalan hasil keringatnya selama 4 tahun di Papua dan sebuah pasar mama-mama senilai 50 miliar, sebuah proyek kecil yang bisa saja dibangun oleh Pemerintah Kota Madya Jayapura sendiri.

Berbagai hasil penelitian oleh lembaga kredibel internasional telah menyatakan adanya ancaman pemusnahan etnis Papua secara perlahan (slow motion genocide) dan genocida yang diabaikan (neglected genocide in west Papua). Kedua laporan yang dikeluarkan baik oleh gereja Katolik Brisbane Australia juga oleh Amnesti International ini juga melengkapi berbagai laporan lainnya termasuk laporan-laporan penyelidikan Komnas HAM RI.

Sekarang sudah tidak bisa dibendung lagi bahwa Papua sudah berada dalam genggaman dunia internasional. Papua setelah lebih dari 50 tahun berada dalam sunyi dan bisu sebagai arena pembantaian yang tersembunyi karena negara pandai menutupi semua kejahatan kemanusiaan yang terus menerus berlangsung.

Dunia internasional mengenal Papua adalah pulau terbayang (tera incognita), arena tragedi terlupa (killing filed in the darkness atau blank spot). Kemajuan teknologi informasi yang bergerak cepat secara bebas hambatan menembus batas wilayah negara (borderless nations) telah membuka berbagai kedok dan kejahatan dan tragedi kemanusiaan di Papua yang telah berlangsung lama dan kebencian masif pada Indonesia semakin hari makin solid.

Apakah Indonesia akan tetap bertahan? Pertanyaan ini untuk dijawab, tetapi juga hanya sekedar untuk bisa di renungkan. Di lihat dari sudut pandang historiografi dan kartografi politik, maka Indonesia adalah negara yang paling labil dan memiliki potensi disintegrasi politik paling mungkin di dunia. Meski pun dalam negeri Britania raya terancam pecah karena perbedaan keyakinan dengan Irlandia utara, namun Kepulauan Inggris Raya adalah negeri  sentrum utama penjajah. Sampai saat ini tidak ada negara besar dan luas yang terdiri dari gugusan pulau-pulau bisa bertahan selama Indonesia.

Dalam historiografi politik, Sriwijaya negeri maritim yang disegani dengan armada laut dan tata niaga sektor laut yang kuat akhirnya runtuh. Demikain pula Majapahit dengan wilayah kekuasaannya dari Madagaskar sampai Formosa juga hanya tinggal nama. Inggris raya negeri asal penjajah dengan imperiumnya luas dibawah naungan britis commonwealt of nation, negara maritim seperti Jepang, sejak 1945 paska peritiwa penyerangan ke Hawai  dan kekalahan akibat bom atom di Hiroshima dan Nagasaki sektor pertahanan masih dibawah protektorat Amerika yang berkedudukan di Okinawa. Demikian pula Philipina negara yang mungkin paling kuat sebagai negara Katolik di bawah pengaruh imperium Vatikan dan juga Amerika Serikat.

Ada beberapa faktor yang bisa menjadi ancaman serius integrasi nasional:

1). Sebagai negara Kepulauan secara geopolitik Indonesia berada dalam kekuatan Eksternal (external treath) sebagai ancaman Labilitas integrasi nasional. 2). Selain itu juga berbatasan langsung dengan 13 negara tetangga sebagai musuh. 3). problem politik kawasan Asia Tenggara seperti konflik laut China Selatan. 4). dinamika politik yang ditunjang persaingan pengaruh penetrasi kapital kekuatan China dan Barat. 5). fragmentasi ideologi agama paska perang teluk dan 911. 6). Belum lagi Indonesia terancam bahaya perang proxy melalui jaringan teknologi informasi yang bergerak cepat membuat dunia ini tanpa batas (borderless nations).

Selain penetrasi kapital juga hegemoni sipil dan militer telah menjadi kian mengancam negeri ini. Korporasi asing yang menguasai sendi-sendiri perekonomian nasional, konglomerasi kelompok elit oligarki yang menguasai lebih dari 70 persen kekayaan nasional baik berupa sumber daya alam, penguasaan tanah juga penguasa fiskal dan moneter melalui permainan volatilitas mata uang baik Juan maupun juga USD dan akhir-akhir ini sing dolar.

Selain ancaman eksternal juga Indonesia adalah negara memiliki labilitas integrasi nasional dari ancaman internal. Selain keanekawargaan suku, agama, ras dan antar golongan hari ini telah menjadi komoditas politik yang membahayakan. Politik rasisme yang makin mengkristal, demikian pula kelomok oligarki politik tingkat nasional yang mengedepankan politik primordialisme, penuh dengan nepotisme.

Monopoli suku bangsa Jawa yang menguasai politik nasional adalah ancaman serius Indonesia akan bubar. Bayangkan 72 tahun Indonesia merdeka Presiden selalu bersuku bangsa Jawa, sedangkan luar Jawa dianggap sebagai kacung dan babu politik. Sistem demokrasi satu orang, satu suara dan satu nilai (One men, One vote and One value) hanya dibuat untuk menguntungkan dan melestarikan adidaya  bangsa Jawa menguasai panggung politik nasional. Pada hal sistem perwakilan dan sistem proporsional atau sistem pemilu berbasis representasi wilayah jauh lebih relevan dibandingkan pemilihan berbasis penduduk.

Kenyataannya, kita lihat pemimpin amatiran muncul dari pulau Jawa dan akan terus muncul jika sistem demokrasi tidak disesuaikan dengan kondisi kekinian bangsa Indonesia. Presiden Jawa yang terbaik hanya Ir. Sukarno dan SBY, sedangkan Suharto alumni SMP di Godean Yogya bernalar otoriter, Megawati, Gusdur orang hebat di tempat yang tidak telat (rightmen on The bed place), juga Joko Widodo pemimpin. Presiden dari Jawa muncul hanya sebagai pemimin yang melakukan ekperimen atau coba-coba untuk menjadi pemimpin karena didorong mayoritas suara, maka negara dikelola secara amatiran dan negara cendrung menjadi amatiran, kata Yusril. Monopoli kekuasan oleh suku bangsa Jawa akan menjadi benih perpecahan. Pengusiran besar-besaran terhadap orang Jawa di Aceh, peristiwa Sampit, Sambas, Armopa di Papua telah memberi signal bahwa ancaman terhadap suku bangsa Jawa itu akan ada pada masa yang akan datang.

Faktor kepemimpinan nasional menjadi problem penentu integrasi nasional. Berbagai persoalan yang muncul di bangsa kita ini hanya karena Presiden tidak mampu mengelola politik dan pemerintahan secara baik dan benar. Mungkin bangunan sosial baik vertikal antar suku, agama, ras dan antar golongan ikut hancurkan, selain itu adanya hegemoni negara secara wewenang-wenang menekan rakyat, sementara rakyat apatis pada negara dan negara kian kehilangan wibawa di hadapan rakyat.

Problem hak asasi manusia adalah faktor terpenting yang mengancam keutuhan NKRI atau Indonesia bubar 2030, bahkan sebelumnya. Tesis ini paling mungkin karena hari ini kita berada di era milenium kemanusiaan (human right milenium) di mana pilar demokrasi, hak asasi manusia dan perdamaian menjadi pilar penting.

Siapa yang bilang kalau Jokowi tidak memiliki catatan kelam atau catatan buram sebagai seorang yang dapat diindikasikan sebagai pelaku pelanggar HAM berat selama 4 tahun kepemimpinan, jika dilakukan penyelidikan secara profesional dan imparsial?

Dilihat dari kebijakan dan tindakannya dalam memimpin negeri ini selama 4 tahun sederet kasus pelanggaran yang secara langsung maupun tidak langsung memiliki keterkaitan dengan kepemimpinan Jokowi jika dilihat dari perspektif hukum HAM:

1. Kasus Paniai tercatat sebagai kejahatan kemanusiaan (gross violation of human right) termasu dalam kategori pelanggaran HAM berat yang berkasnya sedang diproses dan terhenti di Komnas HAM. Kasus Paniai adalah salah satu hasil produk rezim kepemimpinan Joko Widodo. Jokowi menitipkan peristiwa kelam baru bagi bangsa ini. Sebagai kepala negara, Jokowi tidak bisa lepas tanggung jawab (commander resposibilities). Bagaimana pun juga Jokowi menambah 1 berkas pelanggaran HAM berat di Komnas HAM.

2. Adanya penangkapan dan penahanan secara sewenang-wenang, penyiksaan/penganiayaan (torture) dan pembunuhan (kilings) terhadap lebih dari 6 ribu orang Papua selama 3 tahun merupakan catatan negatif rezim Jokowi. Jokowi tidak bisa menghindari sebagai kepala negara/kepala pemerintahan sebagai penanggungjawab komando (commander resposibilities).

3. Dugaan terjadinya genocida secara perlahan melalui berbagai kebijakan (slow motion genocide) di Papua berdasarkan hasil penyelidikan beberapa lembaga internasional, menguatkan dugaan Jokowi sebagai kepala negara, dengan sadar atau sengaja (by commision) melakukan pembiaran (by ommision). Hasil penyelidikan keuskupan Brisbane Australia menyatakan secara fakta terjadi genocida perlahan (slow motion genocida in west Papua) di Papua. Demikian pula amnesti internaional juga menyatakan genocida yang disembunyikan di Papua (neglected genocida in west Papua). Laporan kejahatan kemanusiaan ini telah mendunia dan Indonesia telah dikategorikan sebagai pelaku utama pembatain di tanah Papua.

Tindakan 1 dan 3 ini mengancam integritas nasional. Kita menyaksikan sendiri Pemerintah kepemimpinan Jokowi didemo di luar negeri sebagai penjahat kemanusiaan terhadap rakyat Papua. Berbagai kritikan oleh orang asing juga di dalam negeri menunjukkan bahwa kredibilitas Jokowi sudah mulai mulai hancur.

Oleh karena itu, tidak mengherankan jika faktor kepemimpinan sangat menentukan sebagai perekat bangsa, mampu mengontrol secara baik, tidak membohongi dan mengumbar janji, tidak mengejar citra, tidak haus kekuasan dan jabatan. Pemilihan umum sudah dekat, negara harus mencari solusi untuk menciptakan tanah Papua damai, aman, tenteram dan sejahtera. Oleh karena tabiat pemimin sekarang ini adalah pemimpin tanpa simpati kemanusiaan di Papua, maka Indonesia harus mencari figur yang tepat dan mampu membawa perubahan baik demokrasi, perdamaian dan hak asasi manusia di tanah Papua. [***]

OLEH: NATALIUS PIGAI
Penulisa adalah mantan Komisioner Komnas HAM, aktivis kemanusiaan

Sumber: http://adf.ly/19163325/politik.rmol.co * Ket Doc Foto Aksi Mahasiswa Papua di Surabaya

COMMENTS

BLOGGER
Flow -  Progress
Name

#LetWestPapuaVote,7,5 Hal,26,Aborigin,4,Aceh,17,Adat,7,Afrika,1,Air Terjun,1,Akademisi,3,Aksi,107,Aktivis,54,Aktual,4,Al Jazeera,3,Ambon,2,Amerika Serikat,23,Amnesti Internasional,5,Amnesty,1,AMP,87,Amungme,2,Anak Fakfak,5,Anak Kembar,2,Anak Papua,24,Analisa,2,Ancaman,10,Aneh,27,Aneksasi,19,Anglikan,1,Antaranews,7,Antarapapua,1,Antroplogi,1,Aparat,9,APEC,1,AprilMob,1,Arab Saudi,5,Arahmah,2,Aristokrasi,1,Arnold Clemens Ap,1,Arsip Rahasia AS,2,Arso,1,Arti Mimpi,1,Artikel,6,Artis,6,ASDP,1,ASEAN,2,Asia Pasifik,2,Asia Tenggara,2,Asian Games 2018,1,Asing,1,Asmat,6,ASNLF,1,Asrama,3,Astronaut,1,AU,1,Auckland,2,Australia,40,Awards,1,Awepa,1,Ayat Alkitab,1,Ayub Waker,3,Badai,7,Bagan,1,Bagdad,1,Baghdad,1,Bakar Batu,1,Bakar Lilin,2,Balairungpress,1,Bali,3,Balim,1,Bandung,6,Bangsa Papua,109,BangsaMoro,1,Banjir,2,Barack Obama,3,Barcelona,3,BBC,5,BBM,2,Beasiswa,1,Beat Papua,2,Bebas,1,Bekasi,1,Belajar,2,Belanda,7,Bencana,2,Bendera,15,Beni Pakage,1,Benny Giay,3,Benny Wenda,10,Bentrok,3,Bentuk Negara,8,Berita,115,Berita8,1,Beritaekspres,1,Beritaenam,2,BeritAnda,1,Beritsatu,16,Biak,9,Bintang Kejora,15,Bintang Papua,34,Bintuni,1,Biodata,1,Biografi,1,Bisnis,1,Blokade,1,Blokir,3,BMP,4,BNPB,1,Bob Carr,1,Boikot,9,Bola,2,BOM,8,Bomberay,2,Borneo,4,Boston,3,Bougainville,1,BPS,2,Brasil,3,Brexit,1,Brimob,4,Brussels,1,Brutal,2,Buah Merah,1,Budaya,1,Bukti,1,Buku,6,Buku Papua,7,Bulan,1,Buronan,1,Buruh,5,Burung Cendrawasih,4,CahayaPapua,2,Cak Nun,1,Caledonia,1,California,1,Cambuk,1,Campaign,4,Capres,1,Catalonia,8,Catatan,182,Cendrawasih,1,Cepos,4,Cerita,4,Chechnya,1,China,3,Cita Citata,10,CitizenJurnalis,1,CNN,13,Computer,3,Contact,1,Cuaca,2,Culture,1,Curahan Hati,4,Curahan Hatiku,4,Daftar,2,Dailipost,1,Dana,1,Dana OTSUS,4,DAP,3,Dayak,1,Deiyai,13,Deklarasi,3,Dekolonisasi,4,Delegasi,3,Demokrasi,15,Demokrasi Kesukuan,2,Densus 88,1,Deplu,2,Depok,1,Deportasi,2,Detiknews,18,Dewan Adat,1,Dewan Gereja,3,Dewan HAM,7,Dewan Komite,1,Dialog,31,Diplomasi,1,Diplomat,8,Diskriminasi,2,Diskusi,2,Disnaker,1,Distrik Kokas,1,DNA,1,DNP,2,Doa,2,Doaku,2,Doberai,14,Dogiyai,3,Dokumenter,1,DOM,1,Dominion,1,Download,1,DP,2,DPD,1,DPR,8,DPRP,8,Dr.Thom Wainggai,2,Dubes,9,Duka,9,Dukungan,12,Edisi,1,Edo Kondologit,1,EdudaNews,1,Ekonomi,13,Eksekusi,24,Ekspor,1,El-Gibbor Ministry.net,5,ELSHAM,1,Emas,1,Emtv,1,entertainment,3,Epen Cupen,1,Eramuslim,1,Eropa,7,ESDM,2,Etnohistori,1,Facebook,23,Fakfak,49,Fakfak Picture,6,Fakta,4,Farhat Abbas,1,Fatwa,1,Featured,1,Federal Papua,13,Federasi,10,Fiji,10,Filep Karma,5,Filipina,2,Film,3,Filsuf,1,Flotilla,8,FNMP,1,Foker LSM,1,Forkorus Yaboisembut,3,FORMAT,1,Foto,4,FPI,3,FPM-TF,2,Freedy Numberi,1,Freeport,60,FRI-West Papua,37,FRI-WP,14,Front Pembela Islam,2,Fungsi Otak,1,Gadis,1,GAM,1,Gambia,1,Garam,1,GARDA BAWA,1,Garuda,3,Gatra,2,Gaza,1,Gempa,5,Gempar,6,Gender,1,Generasi Papua,22,Gereja,19,GIDI,3,GKI,1,Globalvoicesonline,1,Golkar,1,GPI,1,Gresik,1,Gresnews,1,GRPB,1,Gubernur,10,Guyana,1,Habelino,4,Habib Rizieq,4,Hacker,16,Hai Tanahku Papua,1,HAM,78,Hamah Sagrim,1,Hamas,4,Hanter,1,Hari Perempuan Sedunia,5,Harian Terbit,2,Herman Wainggai,8,Herman Wanggai,41,Hip Hop,3,Hipwee,1,HKBP,2,Hoax,1,Honiara,3,HPH,2,HRW,1,HTI,1,Hubert Mabel,1,Hukum,23,Hukuman Mati,7,HUT INDONESIA,12,HUT KNPB,5,HUT PAPUA,43,HUT PI,5,HUT RI,1,Hutan,3,Ibadah,3,Ibu,1,Idiologi,5,Idul Fitri,1,Ikan,1,Ilegal,3,Iman,1,Imigrasi,3,imparsial,1,Imperialis,1,India,2,Indonesia,388,Indonesianreview,5,Indopos,1,Indoprogres,4,Indoprogress,3,Info Papua,9,Inggris,12,Injil,4,Integrasi,2,INTEL,1,intelijen,3,Internasional,90,Internet,2,Interpol,1,Investasi,2,IPMAPA,10,IPWP,1,Irak,6,ISIS,25,Islam,1,Islamabad,1,Ismail Asso,3,Israel,17,Istilah,2,Italia,1,Itoday,1,Jacob Rumbiak,4,Jakarta,33,Jalan,2,Jambi,1,Jaringnews,1,Jawa,2,Jawapos,3,Jayapura,49,Jayawijaya,1,JDP,9,Je.Wenda,1,Jefry Wenda,1,Jenewa,6,Jenis Kekuasaan,3,Jenius,1,Jepang,3,Jerat Papua,2,Jerman,4,Jhon Kei,2,Jimmy Demianus Ijie,1,JK,1,Jogja Berduka,1,Jogjakarta,25,Jokowi,102,JPNN,15,Jubi,104,Jubir NRFPB,3,JURNAL3.COM,1,Jurnalis,9,JurNas,1,Kabar24,1,Kae,2,KAI,1,KAIMANA,5,Kajian,1,Kaleb,1,Kalimantan,3,Kamasan,10,Kampanye,3,Kanal Satu,1,Kantor,3,Kapitalis,1,Kapolda,17,Kapolri,1,Kasih Tuhan,1,Kasus,17,kata Bijak,8,Kata Gambar,1,Kataku,17,Katolik,3,Kawan,1,KBR68H,1,Kebebasan,2,Kebersamaan,1,Kebijakan,3,Kebohongan,2,Kecelakaan,6,Kedaulatan,1,Kedubes,7,Keerom,1,Kejahatan,4,Kejenuhan,1,Kekerasan,30,Kematian,2,Kemenkumham,2,Kemerdekaan,5,Kendeng,3,Kepribadian,2,Kereta Api,4,Kerjasama,3,Kerusakan,1,Kesaksian,1,Kesehatan,6,Kewarganegaraan,1,Kingmi,1,KIP,1,Kisah Cinta,2,Kisah Perjuangan,5,Klasis,1,Kleptokrasi,1,KNPB,139,KNPB Konsulat Indonesia,3,KNPI,7,Kodam,1,Koleksi,1,Koloni,1,Kolonialisme,4,Kominfo,5,Komite Independen Papua,1,Komnas HAM,14,Komnas TPNPB,13,Komoro,2,KOMPAS,34,Kompasiana,4,Komunis,1,Konfederal,1,Konfederasi,3,Konflik,6,Kongres,7,Kongres Rakyat Papua III,11,Konservasi,1,Konsolidasi,1,Konspirasi,3,Konsulat,1,KONTRAS,6,Kopi,2,Koran Kejora,1,Korban,58,Korea Selatan,1,Korea Utara,4,Korowai,2,Korupsi,1,Koruptor,2,KP-FMK,1,KPP,1,KRI Bung Tomo,1,KRIMINAL,2,Kristen,2,Kronologi,4,KTP,2,KTT,3,Kualisi Ham,2,Kudeta,1,KUHP,1,Kulonprogo,2,Kumparan,1,Kumpulan Jepretanku,1,Kunjungan,20,Kupang,1,Kurdi,2,Lagu Fakfak,1,Lagu Kebangsaan,3,Lambang,1,Laporan,6,Larangan,5,LBH,18,LBH Papua,1,Leonie Tanggahma,1,Letter,3,Letusan,1,Liberalisme,2,Lifestyle,1,LIPI,6,Liputan6,12,Lirik Lagu,14,LITP,1,LMA,2,LNG,1,Logistik,1,London,5,Longsor,1,LP3BH,9,LPSK,1,LSM,1,Luar Negeri,68,Mahasiswa,84,MAI,4,Majalah Selangkah,3,Makanan,1,Makar,18,Makasar,4,Maklumat,3,Mako Tabuni,1,Malam Kudus,1,Malang,3,Malasya,1,Malaysia,8,Malu,1,Maluku,8,Malware,1,Mama,2,Mamberamo,1,Mambesak,1,Mambunibuni,1,Manado,10,Manajemen,6,Manajemen Konflik,3,Mandat,1,Manifest,1,Manila,1,Manokwari,56,Mansinam,2,Manusia,1,Markus Haluk,2,Markus Yenu,2,Marshal Island,1,Marthen Goo,2,Mascho-Piro,1,Massa,1,Mata kuliah Ilmu Politik,3,Mataram,1,Materi,1,Mayday,8,Mbaham,1,Media,11,Media Asing,2,Mediasi,2,Medsos,11,MeePago,1,Megawati,1,Melanesia,9,Melbourne,5,Melindo,4,Memori,1,Mendopma,1,Menkeu,1,Menkominfo,2,Menkopolhukam,4,Menlu,5,Menpora,1,Merauke,15,Merdeka,6,Merdeka.com,4,MetroNews,13,Mifee,1,Militer,17,Militerisme,4,Militeristik,2,Mimika,2,Mimpi,1,Misteri,4,Mobokrasi,1,Monarki,1,MOP,11,Motivasi,14,Motivasi Dan Dasar Cinta,4,MPR,1,MRP,3,MRP-PB,2,MSG,53,Muhamadiyah,2,MUI,3,Mural,1,Musik,7,Musisi,4,Mutiara Hitam,1,My Photos,24,Nabire,11,Naftali Edoway,1,Nama,2,Napalm,1,NAPAS,6,Narkoba,11,Nasional,8,Nasionalis NKRI,3,Nasionalis Papua,16,Natal,9,Natalius Pigai,7,Nauru,1,Navi Pillay,1,Negara,7,Negara Gagal,3,Negara Kesatuan,3,Negara Konfederasi,2,Negara Papua,48,Negara Rakyat Nusantara,55,Negara Serikat,1,Nelayan,1,Neolib,1,New York,7,New Zealand,5,news,1,NFRPB,73,Nobel,2,Nomor1,1,Novel,1,Nowela,1,NRN,57,NTT,2,Nusantara,7,Nusantaratimes,1,NYIA,1,OAP,8,Oase,1,Octoviaen Gerald Bidana,1,Oikoumene,3,Okezone,14,Oklokrasi,1,Olah Raga,3,Olah Vokal,1,Oligarki,1,Ombak,1,Onestep-news,1,Operasi,2,Operasi Militer,2,Opini,114,OPPB,1,Orasi,1,Organisasi,14,Ormas,1,Otak,1,OTK,1,Otonomi,1,Otsus,7,Otsus Plus,9,Pabrik,1,Padang,1,Paguyuban,1,Pahlawan,1,Pajak,1,Pakar,2,Pala,1,Palestina,12,Palingkeren.com,1,Palsu,7,Palu,1,Pamer Voice,4,Pancasila,4,Pandanganku,44,PANGDAM,1,Panggilan,1,Panglima,3,Paniai,12,Panitia Natal 10,1,Panji,1,PAP,1,Papua,297,Papua Barat,3,Papua Bersatu,3,Papua Menggugat,5,Papua Merdeka,64,Papua New Guinea,6,Papua Post,16,Papuan,3,Parlemen,3,Parlemen Rakyat Daerah,8,Parlementer,2,Partai Lokal,2,Pasifik,20,Paskah,1,Pastor,2,PASTOR JOHN DJONGA,2,Pastor Neles Tebay,7,Patriot,1,PBB,67,PBHI,1,PDP,1,Pdt. Socratez S. Yoman,30,Pejua,1,Pejuang,5,Pekabran Injil,6,Pelajar,1,Pelanggaran,21,Pelantikan,4,Pelopor,1,Pemakaman,2,Pembacokan,1,Pembajakan,2,Pembakaran,10,Pembangunan,6,Pembebasan,2,Pembubaran,1,Pembunuhan,13,Pemekaran,7,Pemerintahan,7,Pemilih,1,Pemilu,2,Pemimpin,14,Pemimpin Terlama Di Dunia,1,Pemuda Papua,1,Penangkapan,85,Penculikan,4,Pencuri,2,Pendatang,2,Pendeta,3,Pendidikan,3,Penduduk,3,Peneliti,2,Penelitian,1,Penembak Jitu,1,Penembakan,54,Pengalamanku,1,Pengamat,5,Pengantar Ilmu Politik,5,Penggusuran,3,Pengungsi,2,Penjajahan,12,Penulis,1,Penyiksaan,3,Pepera,12,Perang,19,Perang Dunia III,1,perasaanku,1,Perawan,1,Perbatasan,4,Perdamaian,2,Perdasus,1,Perempuan,19,Peringatan,2,Peristiwa,2,Perjanjian,6,Perjuangan,7,Pernikahan,2,Pers,6,Persatuan,1,Perserikatan Negara,1,Persipura,4,Persipuramania,3,Perundingan,4,Pesan Group,3,Pesawat,7,Petisi,23,PGI,1,PH,1,Phaul Heger,19,Phoenix,1,Photo,2,Photo Gabungan,4,Photo Jepang,1,Photo Kongres,1,Photo Papua,12,PIA,1,Picture,35,Picture Papua,20,Pidato,8,PIF,9,Pikiranku,5,PIlar Demokrasi,1,Pilgub,2,Pilpres,7,Pinang,1,PKI,2,PKMFP,2,PKS,1,Plutokrasi,1,PMKRI,1,PNG,31,PNPB,1,PNWP,9,Pohon Natal,4,Pojoksatu,1,Polandia,1,Polisi,32,Polisi Nasional Papua,1,Politik,2,Politik Rakyat,3,Politisi,1,Polri,9,Populisme,1,Pornografi,1,Port Moresby,4,Port Numbay,11,Port Vila,7,Portalkbr,4,Pos,1,Posko,3,POSTER,1,Postingan,102,PPR,1,Prabowo,2,Prakata,1,Prancis,3,PRD,16,Prediksi,1,Preman,4,Presiden,12,Presidensil,2,Profil Negara Papua,3,Profile,2,Program Ke Kampung,1,Proklamasi Papua,13,Protektorat,1,PRPPB,16,PS,2,PSSI,1,Puisi,41,Puisi Cinta,21,Puisi Cinta Dan Perasaan,8,Puisi Duka,1,Puisi Kebahagiaan,3,Puisi Kehidupan,5,Puisi Kerinduan,2,Puisi Kritik,1,Puisi perasaan,3,Puisi perasaanku,3,Puisi Perjuangan,8,Puisi Perpisahan,1,Pulang,1,Pulau,2,Pulau Manus,1,Puncak Jaya,5,Puncak Papua,1,Quaker,1,Qureta,1,R4,1,Radar Sorong,20,RadarTimika,5,Radio Australia,2,Radio Streaming Papua,1,Radionz,1,Raja Ampat,1,rakyat Papua,4,Ramalan,1,Ranting Patah,2,Rappler,2,Ras Papua,2,Rasis,10,Ratu,1,Referendum,20,Refleksi,5,Reformasi,1,Rekayasa,3,Rekomendasi,1,Renungan,11,Represif,1,Republik Papua,7,REPUBLIKA,6,Resolusi,1,Revolusi,1,Revolusi Budaya,4,Revolusi Papua,1,Rex Rumakiek,1,Riau,3,RMS,10,Rohingnya,1,Roma,2,Roma Agreement,4,RSP,1,RSUD,1,Rupiah,2,Rusia,4,Rutan,1,RUU,3,Sabah,1,Sabun,1,Sagu,1,Sains,3,Saireri,4,Saksi,1,Salatiga,3,Saleh Partaonan Daulay,2,Samoa,2,Sampul Facebook,5,Sandal Jepit,1,Sandera,2,Sarawak,2,Sastra,1,Sawit,1,SBY,1,SDA,1,SDM,1,Sebby Sambon,1,Sejarah,10,Sejarah Indonesia,12,Sejarah Injil Di Papua,2,Sejarah NKRI,7,Sejarah Papua,25,Seks,1,Selpius Bobi,1,Semangat,1,Semangat Papua,2,Semarang,7,Semen,3,Seminar,10,Senator,5,Seni,5,Seni Rupa,1,Senjata,4,Sentani,5,Seruan,38,Serui,9,Seruu.com,1,SETARA,1,Setwapres,2,Sharia,1,SHDRP,1,Shio,1,Siaran Pers,6,Sidang,7,Sifat,1,Sikap,2,Sinar Harapan,2,Sindonews,14,Singapura,1,Sistem Pemerintahan,7,Situbondo,1,Situs,3,Siwalima,1,Skenario,2,SKP-HAM,1,Slanks,1,Smelter,5,SMPP,1,SODELPA,1,Solidaritas,13,Solidaritas Perempuan Papua,5,Solo,1,Solomon,11,SONAMAPPA,2,Sorong,20,Sorotan,2,Sosialisasi,1,Spam,1,Spanyol,5,SPM,3,SPM-PB,2,Sports,4,Sri Lanka,1,Sri Paus,6,SSKM,3,Status Facebook,4,Stigma,1,Stiker,1,Stop Miras,4,Struktur Negara,3,Student,1,Suaka,1,Suara,3,Suara Pembaruan,3,Suara Rakyat,4,Sudan Selatan,1,Sukhoi,1,Sukoharjo,1,Suku,2,SUKU MBAHAM,2,Suku Pedalaman,1,Suku Primitif,1,Sulawesi,3,Sulpap,1,Sultan,2,Suluh Papua,7,Sumpah Pemuda,3,SUP,7,Supiori,1,Surabaya,9,Surakarta,1,Surat,16,Sùrat,1,Suriah,4,Suva,3,Sydney,3,Syria,1,Syukuran,2,Tabrakan,2,Tagor,1,Tahanan,5,TALIBAN,2,Tambang,4,Tambrauw,2,Tami,1,Tanah Papua,3,Tapanews,2,Tapol,10,Teatrikal,1,Teknologi,6,Telkomsel,1,Tembagapura,9,Temp,1,Tempo,15,Tentara,2,Teori,1,Terasing,1,Ternate,1,Teror,3,Teroris,8,Terpidana,2,Tewas,1,Texax,1,Thaha Alhamid,2,The Comens,5,Tidore,1,Tim 7,2,Timika,39,Timnas Papua,1,Timokrasi,1,Timor Leste,4,Timur Tengah,2,Tionghoa,1,Tips,7,Tips Kesehatan,11,Tips-Tips Komputer,11,Tips-Tips Motivasi,9,Tirani,1,Tjahjo Kumolo,1,TMP,1,TNI,29,Tokoh,8,Tokoh-Tokoh,28,Toleransi,2,Tolikara,12,TP,1,TPN/OPM,90,Tradisi,1,Tragedi,2,Transmigrasi,5,TribunNews,17,Trikora,9,TRONDHEIM,1,TRWP,9,TTS,1,Tuduhan,1,Tugu,1,Turki,2,Tuvalu,2,TV Papua,1,TVONE,1,Twitter,2,Uang,1,Ucanews,4,UFO,2,Uganda,1,UGM,2,Ulang Tahun,1,ULMWP,70,UNCEN,9,Undangan,3,Unesco,3,UNGA72,14,Uni,1,Uni Eropa,2,UNICEF,1,UNPO,1,UNTEA,1,UP4B,9,USAID,1,Uskup,3,Ustad Fadlan Garamatan,2,Utikini,2,UU,2,UURWP,1,Valentin’s Day,5,Vanuatu,25,Vatikan,2,Venezuela,1,Veronica Koman,1,Victor Yeimo,9,Vidio,54,Vietnam,1,Virus,3,Visa,1,Visa Papua,1,Vivanews,13,Voanews,7,Wagub,1,Waisai,1,Wall Facebook,13,Wamena,5,Wapres,2,Warta Papua,1,Wartawan,11,Washington,12,Washingtonpost,1,Wasior Berdarah,1,Wawancara,7,WCC,1,Wellington,5,West Papua,69,West Papua Media,1,Western Sahara,1,Willem Wandik,3,Wissel Van Nunubado,16,WNA,1,WNP,1,Wondama,1,wor,1,WORLD,73,WPAN,1,WPNA,8,WPNCL,4,WPNLA,2,WPNYC,1,WPRA,3,WTO,1,WWF,1,Yahudi,1,Yahukimo,1,Yalimo,1,Yaman,2,Yapen,1,Yason Ngelia,3,Yerusalem,3,yogyakarta,71,Yorrys Th. Raweyai,1,Yunani,1,Yusak Pakage,1,
ltr
item
West Papua Blogger: Pembantaian Di Papua dan Ancaman 2030
Pembantaian Di Papua dan Ancaman 2030
https://4.bp.blogspot.com/-wUfwWaaHV1I/WrdECsvYC3I/AAAAAAAASdk/1vecJxXU97Ywh1nNLDf0gYM-OrvQwZTVgCKgBGAs/s640/Anak%2BPapua%2Bdi%2BSurabaya%2B%252819%2529.jpg
https://4.bp.blogspot.com/-wUfwWaaHV1I/WrdECsvYC3I/AAAAAAAASdk/1vecJxXU97Ywh1nNLDf0gYM-OrvQwZTVgCKgBGAs/s72-c/Anak%2BPapua%2Bdi%2BSurabaya%2B%252819%2529.jpg
West Papua Blogger
https://phaul-heger.blogspot.com/2018/03/pembantaian-di-papua-dan-ancaman-2030.html
https://phaul-heger.blogspot.com/
https://phaul-heger.blogspot.com/
https://phaul-heger.blogspot.com/2018/03/pembantaian-di-papua-dan-ancaman-2030.html
true
3552930492203703242
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy