Header Ads

Umat Katolik Papua Kecam Uskup Membisu Saat OAP Dibantai

Mahasiswa Katolik Papua berunjuk rasa di Waena, Jayapura pada hari Jumat (09/06) mengecam para uskup di Tanah Papua membisu saat Orang Asli Papua dibantai (Foto: Ist)

JAYAPURA,  - Solidaritas Peduli Umat Katolik Pribumi Papua (SPUKPP) mendesak para uskup di Tanah Papua memperjuangkan penghapusan stigma separatis, makar, pengacau dan pelaku kriminal terhadap Orang Asli Papua (OAP) yang selama ini dipakai menjustifikasi penangkapan, penembakkan dan bahkan pembunuhan OAP.

SPUKPP juga mendesak para uskup untuk mengusulkan ke Roma agar  seorang pastor Papua diangkat menjadi uskup karena diyakini putra Papua  yang turut merasakan suka-duka, harapan, kecemasan dan kegembiraan umat Tuhan di Tanah Papua akan mengumandangkan suara kenabiaannya demi keselamatan umatnya.

Mahasiswa Katolik Papua berunjuk rasa di Waena, Jayapura pada hari Jumat (09/06) mengecam para uskup di Tanah Papua membisu saat Orang Asli Papua dibantai (Foto: Ist)
Desakan itu disampaikan oleh SPUKPP melalui aksi unjuk rasa yang digelar di halaman Susteran YMY Maranatha Waena, Jayapura, hari ini (09/06). Foto-foto unjuk rasa yang diterima satuharapan.com memperlihatkan banyaknya kecaman yang dipampangkan lewat lembaran-lembaran spanduk yang digelar.

“Dimanakah para gembala ketika domba-domba diterkam serigala?” demikian salah satu bunyi spanduk yang dipertunjukkan oleh pengunjuk rasa, yakni para mahasiswa Katolik Papua, yang ditujukan kepada lima uskup di Tanah Papua.

Ketua SPUKPP, Christianus Dogopia, dalam siaran persnya yang diterima oleh satuharapan.com hari ini (09/06), mengatakan Gereja Katolik ada dan hadir di Tanah Papua karena "Misi Keselamatan dari Allah" kepada segala bangsa, termasuk bangsa Papua, rumpun Melanesia. Gereja Katolik hadir di Tanah Papua, kata dia,  karena adanya orang Papua.

“Melalui dan oleh Gereja, Misi Keselamatan Allah diwartakan di atas Tanah Papua demi dan untuk keselamatan bagi yang tertindas, terhina, teraniaya dan yang dibunuh oleh karena memperjuangkan nilai-nilai keadilan, kebenaran dan perdamaian,” lanjut siaran pers itu.
Selanjutnya dikatakan bahwa semestinya kehadiran Gereja Katolik di Tanah Papua memperjuangkan nilai-nilai keadilan, kebenaran dan perdamaian di atas Tanah Papua. Namun selama ini, menurut Christianus, gereja hanya diam ketika menyaksikan pembantaian umat Allah di Tanah Papua.

“Gereja membisu ketika melihat nilai-nilai keadilan, kebenaran dan perdamaian di atas Tanah Papua diinjak-injak. Dimanakah suara kenabian gereja? Dimanakah para gembala (uskup) ketika terjadi pembantaian? Para gembala umat Katolik di Tanah Papua haruslah menyuarakan suara kenabiaannya. Para gembala wajib menjadikan duka dan kecemasan, harapan dan kegembiraan Umat Tuhan di Tanah Papua sebagai duka dan kecemasan, harapan dan kegembiraan gembala umat,” demikian siaran pers SPUKPP.

“Gembala janganlah meninggalkan domba-dombanya ketika mereka disergap oleh para serigala,” demikian siaran pers SPUKPP.

Atas kebisuan gereja dan para uskup, demikian Christianus, maka umat Katolik pribumi yang tergabung dalam solidarias ini, menyatakan dan mendesak agar  para uskup di Tanah Papua wajib menyuarakan suara kenabian; demi penegakan nilai-nilai keadilan, kebenaran dan perdamaian. “Selama ini kami belum mendengar suara kenabian dari gembala kami.”

Kedua, umat Katolik Pribumi di dalam SPUKKP juga meminta agar para uskup di Tanah Papua wajib memperjuangkan penghapusan stigma yang dilekatkan kepada OAP sebagai  separatis, makar, pengacau, pelaku krimintalitas.

Ketiga, SPUKKP menilai dalam usia Gereja Katolik di Tanah Papua yang sudah memasuki 150 tahun,  sudah banyak putra-putra Papua yang menjadi imam sehingga  para uskup di Papua diminta untuk mengusulkan ke Roma agar seorang pastor Papua diangkat menjadi uskup. “Karena kami yakin, putra Papua juga turut merasakan suka duka, harapan, kecemasan dan kegembiraan  umat Tuhan di Tanah Papua akan mengumandangkan suara kenabiaannya demi keselamatan umatnya di Tanah Papua.”

 Keempat, SPUKKP menilai selama ini Gereja-Gereja Pasifik (Konferensi Para Uskup Pasifik) telah berbicara dan mengangkat segala persoalan kemanusiaan di tanah Papua. Tetapi uskup-uskup di Tanah Papua dan Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) tidak pernah menyuarakan segala persoalan kemanusiaan (Pelanggaran HAM) di atas Tanah Papua.

“Oleh karena itu sudah layak dan sepantasnya, Gereja Katolik (para Uskup) di Tanah Papua membangun kerja sama dengan Gereja Katolik di wilayah Pasifik untuk menyuarakan persoalan kemanusiaan di Tanah Papua. Karena wilayah Pasifik dan Melanesia memiliki kesamaan dengan Papua. Karena itu harus ada kerja sama antara Gereja Katolik di Tanah Papua dan Gereja Katolik di Pasifik.”

Editor : Eben E. Siadari
Sumber: http://www.satuharapan.com

Terimakasih Sudah Membaca serta Kunjungan anda disini

Kalau suka, silahkan klik "like/suka" di bawah ini:
Powered by Blogger.