Header Ads

Pernyataan Forum Oikumenis Gereja2 Papua

Senin 29 Mei 2017 Pernyataan Pers

Forum Kerja Oikumenis Gereja2 Papua

Minggu ini kami (seperti minggu, bulan dan tahun-tahun sebelumnya) jemaat2 kami telah mengalami duka, kematian, pengejaran, penembakan dan pembacokan; juga stigma di mana Lembaga Negara (yang lemah itu ) selalu keluar dengan bahasa politik “bicara lain main”. Karena itu kami hari ini keluarkan “Surat Gembala”.

Bagian pertama, surat gembala itu kami tunjukkan para pihak yang sedang berdinamika dan bermain di berbagai tingkatan sampai di Papua yang otomatis berpengaruh terhadap kehidupan jemaat2/ masyarakat sipil di Papua.

Bagian kedua dan ke 4 kami tunjukkan bagaimana wajah Negara mempertontonkan dirinya dalam penyelesaian kasus-kasus kekerasan. Tema rasisme angkat di sini. Ini juga kami angkat sekali lagi dalam Bagian ke 4, di mana kami tunjukkan wajah rasisme yang terlembagakan dalam lembaga Negara TNI POLRI yang berjuang untuk menggiring kita semua (public) untuk mendukung TNI POLRI berangus KNPB dan orang Gunung.

BaGian ke 3 kami berefleksi pengalaman aktivis perjuangan dan karya Gereja yang telah membentuk kita pada masa lalu yang terus membayang-bayangi kita.

Ke 5, kami nyatakan pendapat dan posisi sebagai Gereja tentang OPM KNPB atau ULM WP. Ini pernah kami sampaikan tanggal 16 Desember 2011, bahwa OPM dan KNPB atau adalah bayi (nasionalisme) yang lahir sebagai hasil dari perkawinan paksa (PEPera 1969) antara Indonesia dan Papua yang kedua belah pihak harus jaga. Seperti halnya Soekarno dan Moh Hata yang menurut Indonesia adalah mndukung Nasionalisme, demikian juga kami. Kami memposisikan OPM, KNPB, ULMWP sebagai pembawa bendera Nasionalisme Papua; yang selama ini dicap separatis, seperti halnya dulu Belanda yang mengirim Soekarno ke penjara dengan tuduhan separatis.

Ke enam, kami sampaikan kepada jemaat jemaat ) bahwa berdasarkan pengalman dan kejadian yang kami alami beberapa hari terakhir ini, “tidak ada masa depan bagi bangsa Papua dalan systemnya Indonesia . Papua harus bangun dirinya sendiri; dengan belajar dari Persipura. Kita, Papua bikin agenda sendiri. Belajar dari Persipura dengan disiplin, latihan terus-menerus, focus dan terarah, tepat waktu ikut jadwal yang tetap, semangat yang menyala-nyala. Tidak ada bangsa lain yang akan datang tolong. Orang Papua harus tolong dirinya sendiri dengan buat komitment untuk priroritaskan pendidikan dalam segala bidang Pendidikan. Pendidikan Jaga komitmen itu ‘untuk sekolahkan anak2 dan perjuangkan sampai akhir.

Kami mengajak seluruh jemaat “Mari kita kubur budaya menunggu kebaikan datang dari langit; atau bangsa itu atau pihak ini akan datang menolong”. Kami sampaikan “ kita sedang menghadapi tembok budaya dan ideologis dan rasisme”. Kita sedang hadapi ideologi dan kebijakan pembangunan “bias pendatang”.

Kami ucapkan Selamat berjuang. Selamat berjuang menghadirkan teolog-teolog dan ahli hukum, ekonom Papua masa depan “dengan mata tertuju kepada Kristus” (Iberani 12:7). Selamat berjuang.
Jayapura, Senin 29 Mei 2017


Forum Kerja Oikumenis Gereja-Gereja Papua

Pdt. Dorman Wandikmbo,S.Th
Ketua Sinode GIDI,di Tanah Papua

Pdt,DR. Socrates Yoman,MA
Ketua Umum Pesekutuan Gereja-Gereja Baptis Papua

Pdt, DR.Benny Giay
Ketua Sinode KINGMI Di Tanah Papua.

Terimakasih Sudah Membaca serta Kunjungan anda disini

Kalau suka, silahkan klik "like/suka" di bawah ini:

No comments

Silahkan menanggapi melalui kolom ini dengan bahasa yang santun, link aktif berupa spam dan link p*rno, togel akan dihapus.

Powered by Blogger.