Aborigin dan Orang Papua Masih Satu DNA

Suku Aborigin/Hulton Archive/Getty Images

Tulang belulang manusia, dan artefak yang berada di Australia sejauh ini dapat dilacak sejauh 50.000 tahun sebelum jejaknya menghilang. Sebelum itu, sepertinya tidak ada seorang pun yang menghuni benua Australia.

Sebuah penelitian yang menyusuri rekam jejak suku Aborigin resmi dirilis Kamis, 9 Maret 2017. Penelitian ini menjawab pertanyaan dari mana suku Aborigin berasal, apabila 50.000 tahun yang lalu Australia adalah sebuah benua besar yang tidak terjamah manusia.

Seluruh suku Aborigin yang ada sekarang, berasal dari sekumpulan orang yang bermigrasi sekitar 50.000 tahun lalu. Mereka berpencar ke seluruh penjuru benua, menempati dari ujung pantai satu ke ujung pantai lainnya.

DNA yang digunakan untuk penelitian ini berasal dari rambut suku Aborigin yang didapatkan pada serangkaian ekspedisi diantara 1926 hingga 1963. University of Adelaide mengirimkan beberapa peneliti untuk mencari informasi di seluruh benua Australia dalam rangka penelitian antropologi. Hasilnya mereka mendapatkan informasi tentang bahasa Aborigin, perayaan, karya seni, kosmologis, dan genealogis.

Banyak dari suku Aborigin Australia yang tidak dapat hidup seperti halnya para pendahulu mereka. Pada tahun 1900-an, pemerintah negara memaksa para suku Aborigin untuk meninggalkan tanah mereka, dan memisahkan anak-anak dari keluarganya. Banyak suku Aborigin yang terpaksa pindah ke kota, jauh dari tempat mereka tumbuh.

Baca: Freedom Flotilla sampai di Selat Torres

Alan Cooper, peneliti pertama di University of Adelaide yang meneliti tentang DNA kuno. Ia dan rekan-rekannya membandingkan DNA suku Aborigin dengan DNA lain dari seluruh dunia. Akhirnya mereka menemukan suku Aborigin berada pada satu garis yang sama dengan manusia lain, hal ini mengindikasikan adanya proses migrasi suku Aborigin ke benua Australia.

Lima puluh ribu tahun lalu, tingkat ketinggian air laut begitu rendah, cukup rendah untuk menghubungkan Australia dengan Papua. Manusia berjalan sangat jauh dari Asia Tenggara menuju Australia. Beberapa dari mereka berhenti di Papua, sementara yang lainnya berjalan lebih jauh ke selatan dan tiba di Australia.

Berbeda dengan hasil penelitian yang ditemukan di benua lainnya, suku Aborigin sama sekali tidak tercampur dengan DNA lain. Seperti halnya di Eropa, populasi baru muncul per seribu tahun, bercampur dengan orang baru yang ditemui.

Baca juga: statement-of-support-from-national...

Menurut Dr. Cooper, penyebab yang membedakannya adalah budaya bertani. Tidak seperti Afrika, Asia, dan Eropa, di Australia tidak mengalami berkembangnya budaya bertani beberapa ribu tahun lalu. Dr. Cooper mengatakan, “Bila tidak ada sumber karbohidrat yang mudah, populasi tidak akan bertambah”

Budaya bertani memang dapat berdampak pada bertambahnya populasi, tapi memiliki resiko besar yakni bila terjadi gagal panen. “dan solusi untuk gagal panen hanya satu, migrasi besar” ujar Dr. Cooper.

Walaupun suku Aborigin tidak bergantung pada tanaman, dan hidup secara nomaden, mereka tidak pernah berpindah dari benua Australia. Peter Bellwood, seorang arkeolog Australian National University yang tidak terlibat sama sekali dengan penelitian ini mengatakan, banyak sekali kecocokan data dengan temuan-temuan arkeologi selama ini. Ia heran dan sulit untuk memahami bagaimana cara suku Aborigin dapat bertahan dan tidak berpindah dari Australia dalam waktu yang sangat lama.
***
Sumber: http://www.pikiran-rakyat.com

Related : Aborigin dan Orang Papua Masih Satu DNA