Ajakan kepada Perempuan Berkontribusi Selesaikan Masalah HAM

Komisioner HAM Antarpemerintah ASEAN (AICHR) Dinna Wisnu. (Foto: Dok satuharapan. com/akun Twitter Dinna Wisnu)

JAKARTA, - Komisi HAM Antarpemerintah ASEAN (AICHR) mengajak lebih banyak perempuan berkontribusi dalam bidang politik dan pengambilan kebijakan untuk menangani berbagai persoalan HAM di kawasan.

Dalam diskusi berjudul "Women and Politics" yang diselenggarakan di Pusat Kebudayaan Amerika Serikat @america di Jakarta, Selasa (17/1) malam, Komisioner AICHR, Dinna Wisnu, menjelaskan keterlibatan perempuan dalam penyelesaian masalah HAM masih terbatas pada isu perempuan dan anak, sementara untuk isu-isu yang lebih strategis seperti politik, keamanan, dan ekonomi, keterlibatan perempuan masih minim.

"Itu sebabnya sempat ada pandangan bahwa perempuan dalam HAM pasti bicara tentang gender, orang tidak melihat bahwa kontribusi perempuan dalam HAM bisa bermanfaat bagi semua orang," kata Dinna.
Sejak terpilih menjadi wakil Indonesia untuk AICHR, Dinna berupaya mendobrak kekeliruan persepsi tersebut dengan mengajak seluruh perempuan ASEAN bicara tentang isu-isu yang biasa ditangani oleh laki-laki.

Tanpa keterlibatan perempuan, menurut dia, isu HAM seperti penganiayaan dan perdagangan manusia tidak akan bisa diselesaikan.
Sebagai sebuah komunitas besar, setiap anggota masyarakat ASEAN harus berhenti mengkotak-kotakkan persoalan HAM berdasarkan gender karena bahkan isu menyangkut perempuan dan anak sekalipun, harus ditangani melalui pemahaman lintas sektoral.

"Kunci gerakan penegakan HAM terletak pada upaya untuk membangun hubungan lintas ilmu, lintas kelompok, dan lintas kepentingan," ujar Direktur Program Pascasarjana Universitas Paramadina itu.

Mengingat begitu beragamnya persoalan HAM di ASEAN mulai dari isu perempuan dan anak, disabilitas, kesehatan, pendidikan, pemilihan umum, hingga penganiayaan dan hukuman mati, maka setiap anggota masyarakat ASEAN harus menanamkan kepedulian dalam diri masing-masing bahwa HAM berkaitan erat dengan diri dan keluarganya.

"HAM itu bukan beban melainkan keseharian yang harus diterapkan dalam kebijakan publik," kata Dinna. (Ant)

Editor : Sotyati
Sumber: SATUHARAPAN.COM

Kalo suka, jang lupa klik "like/suka" di bawah ini:

Related : Ajakan kepada Perempuan Berkontribusi Selesaikan Masalah HAM