AS Rusia Saling Usir Diplomat

Presiden Rusia,Vladimir Putin, dan Presiden AS, Barack Obama. (Foto: dok/Ist)

MOSKOW, -Rusia pada hari Jumat (30/12) mengusir 35 diplomat Amerika Serikat setelah Presiden Barach Obama menjantuhkan sanksi terhadap Rusia atas dugaan terlibat kecurangan dalam pemilihan presiden AS.
Sebelumnya, AS pada hari Kamis (29/12) mengusir 35 diplomat Rusia dan menutup dua misi diplomatik Rusia di New York dan Maryland, terkait pelecehan Rusia terhadap diplomat AS di Moskow, kata seorang pejabat senior AS.
Pejabat yang berbicara dengan syarat anonim, dikutip Reuters mengatakan bahwa diplomat Rusia diberi waktu 72 jam untuk meninggalkan AS. Akses ke dua kantor misi diplomatik Rusia itu juga akan ditolak bagi semua pejabat Rusia mulai hari pada hari Jumat (30/12) waktu setempat.
Tindakan itu diambil menanggapi pelecehan Rusia terhadap diplomat AS dan tindakan diplomat yang dinilai menjadi tidak konsisten dengan praktik diplomatik, kata pejabat itu.
Dibalas Pengusiran Dubes
Sebagaimana pengusiran oleh AS kepada diplomat Rusia yang diberi waktu 72 jam, Rusia juag memberikan waktu 72 jam kepada 35 diplomat itu untuk meninggalkan Rusia.
Pernyataan Obama tentang serangan siber membuat hubungan antara Rusia dan AS perada pada situasi terburuk sejak Perang Dingin, dan ini terjadi kurang dari satu bulan menjelang pelatinkan presiden terpilih, Donald Trump, yang tampaknya lebih dekat dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin.
Pada hari Kamis (29/12) Obama mengatakan, 35 orang diplomat dan intelijen Rusia diduga terkait serangan siber yang berbasis di kedutaan negara itu di Washington dan konsulatnya di San Francisco.
Rusia tidak tinggal diam. “Timbal balik adalah hukum dalam diplomasi dan hubungan internasional," kata Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, dalam sebuah pernyataan yang disiarkan televisi, dikutip AFP. Dia menolak tuduhan AS dan mengatakannya sebagai "tidak berdasar".
Lavrov mengatakan pihaknya telah meminta Presiden Vladimir Putin untuk menyatakan 31 staf di kedutaan besar AS di Moskow dan empat di konsulat kota Saint Petersburg untuk dijatuhi personae non grata. Rusia juga melarang diplomat AS menggunakan rumah liburan dan gudang di Moskow, kata Lavrov.
Obama mengatakan untuk menghukum pemerintah Putin karena diduga mencoba terlibat mendukung Trump dalam pemilihan presiden 2016. Dan Obama meluncurkan berbagai langkah terhadap Moskow ,termasuk mengusir diplomat.
Intelijen AS menyimpulkan bahwa serangan hacker yang kemudian merilis email Hillary Clinton, calon presiden dari Partai Demokrat, diperintahkan oleh Kremlin dan dirancang untuk memenangkan Trump.
"Saya telah memerintahkan sejumlah tindakan dalam menanggapi pelecehan agresif pemerintah Rusia terhadap pejabat AS dan operasi dunia maya yang ditujukan pada Pemilu AS," kata Obama dalam sebuah pernyataan.
Balik Menuduh
Dalam menanggapi serangan siber (hacks) yang dijuluki  sebagai "Grizzly Steppe" oleh pejabat AS, Obama mengumumkan sanksi terhadap lembaga intelijen militer Rusia yang dikenal sebagai GRU, dan FSB, kelanjutan dari KGB.
Kremlin berulang kali menolak tuduhan AS tentang gangguan siber, dan juru bicaranya, Dmitry Peskov, balik menuduh pemerintahan Obama mencoba "menghancurkan hubungan AS-Rusia yang berada di titik rendah."
Hubungan antara Washington dan Moskow merosot ke titik terendah sejak akhir Perang Dingin, dan Obama sebelumnya telah menjatuhkan sanksi atas tindakan Rusia di Suriah dan Ukraina.
Peskov mengatakan menjelang pengumuman Lavrov bahwa Putin akan memperhitungkan fakta Obama hanya memiliki sekitar tiga pekan lagi sebagai presiden. Dan Moskow akan mencoba untuk tidak bertindak seperti "seekor banteng di toko Tiongkok" dengan harapan terjadi normalisasi hubungan setelah Trump menggantikannya.
Membuat gerakan terhadap Obama juga bisa meningkatkan ketegangan lebih lanjut dengan penggantinya, Trump, yang telah menyatakan pujiannya pada Putin dan keinginan untuk memperbaiki hubungan AS dengan Rusia.
Trump juga mempertanyakan apakah Rusia benar-benar terkait dalam pemilihan presiden,dan menggambarkan tuduhan Obama sebagai upaya terselubung bagi Partai Demokrat untuk mendelegitimasi kemenangan Partai Republik.
Trump mengatakan bahwa AS harus "beralih ke hal-hal yang lebih besar dan lebih baik." Dia akan bertemu dengan para pemimpin intelijen pada pekan depan untuk briefing tentang situasi terbaru. Namun Obama menegaskan bahwa "semua orang Amerika harus khawatir dengan tindakan Rusia."
Intelijen Rusia
Obama mengaitkan sanksi untuk Rusia  terkait pelecehan terhadap diplomat AS di Moskow, yang menurut Washington sebagai "tidak pernah terjadi sebelumnya" di era pasca Perang Dingin.
Para pejabat AS tampaknya meremehkan dampak sanksi terhadap GRU dan FSB yang bisa mengganggu dalam kerja sama berbai informasi intelijen terkait isu-isu terorisme. Dan disebutkan kerja sama itu sudah dibatasi.
Kedua lembaga intelijen Rusia (GRU dan FSB) akan menghadapi sanksi, bersama dengan empat petugas GRU, termasuk kepalanya, Igor Korobov.
Selain itu, Departemen Keuangan AS menjatuhkan sanksi pada dua individu, Evgeniy Bogachev dan Aleksey Belan, atas "terlibat dalam kegiatan siber yang berbahaya."
Sanksi itu termasuk membekukan aset yang mungkin mereka miliki di AS, dan perusahaan-perusahaan AS dilarang melakukan bisnis dengan mereka.
Pemerintah AS juga deklasifikasi informasi teknis pada aktivitas dunia maya Rusia untuk membantu perusahaan mencegah serangan di masa depan.
AS juga miminta teman dan sekutu di seluruh dunia untuk bekerja sama menentang upaya Rusia melemahkan norma-norma internasional  dengan perilaku yang mengganggu pemerintahan yang demokratis.
Hal itu juga membangkitkan kekhawatiran bahwa Rusia bisa saja menargetkan pemilu mendatang di negara lain, seperti Prancis, Jerman dan Belanda.
Editor : Sabar Subekti
sumber: SATUHARAPAN.COM

Related : AS Rusia Saling Usir Diplomat