Header Ads

Masyarakat Adat Mbaham Matta Tuntut Perbaikan Harga Pala

Buah Pala/Henggi

JAYAPURA/Yayasan Pusaka, SUARAPAPUA.com— Pala atau henggi dalam bahasa Mbaham di Kabupaten Fakfak, Provinsi Papua Barat, merupakan salah satu komoditi hasil hutan bukan kayu andalan yang dihasilkan oleh masyarakat adat Mbaham Matta di Fakfak.
Kebanyakan masyarakat adat Mbaham Matta memproduksi buah pala perdagangan berupa biji pala kulit, biji pala ketok dan fuli kering. Selain itu, buah pala diolah menjadi manisan pala basah dan kering, sirup pala dan sari buah pala.Luas kawasan hutan tanaman pala di Fakfak mencapai 16.733 hektar dan tersebar disemua distrik.
Menurut Dirjen Kekayaan Intelektual, Kementerian Hukum dan HAM, bahwa pala tomandin  (myristica argentea) asal Fakfak mengandung astrid safrol yang lebih tinggi dibandingkan dengan kandungan yang ada pada pala asal Banda.
Bulan November merupakan puncak musim panen pala di kampung-kampung. Para pedagang pembeli buah pala bertebaran dan menawarkan harga pembelian tidak terkontrol, cenderung dibawah harga yang layak.
Aktivis ELSHAM Fakfak, Amos Wagab, menjelaskan, pada masa panen pala, para pedagang yang biasanya membeli pala di kota, kini mulai membeli pala disetiap kampung dengan harga dibawah dan tidak wajar.
“Sebelumnya harga 1000 biji pala mentah Rp. 500 ribu, kini menurun menjadi Rp. 300 ribu, harga bunga pala dari Rp. 130 ribu per kilo menjadi Rp. 80 ribu per kilo. Ini merugikan petani”, jelas Amos.
Beberapa waktu lalu, terdengar pemerintah sedang mengupayakan peraturan daerah tentang tata niaga pala di Fakfak, yang diharapkan dapat melindungi petani pala dan dapat mengamankan sumber produksi, hasil dan pasar pala. Tapi tidak ada yang tahu perkembangan nasib regulasi ini.
Pada Juni 2016, Dirjen Kekayaan Intelektual, Direktorat Merek dan Indikasi Geografis, Kementerian Hukum dan HAM, telah mengumumkan Indikasi Geografis No. 08/IG/VI/A/2016 terhadap Pala Tomandin asal Fakfak, sebagai pertanda pengakuan resmi atas hak kekayaan intelektual (HAKI) atas pala yang dihasilkan petani setempat.
Idealnya, HAKI tersebut dapat lebih mengsejahterakan masyarakat adat setempat, termasuk mengakui kwalitas buah pala setempat dan mendapatkan harga pala yang layak.
Aktivis LSM PESOPEMA, Esau Rumere, mengungkapkan, praktiknya beda dan pemerintah tidak serius dalam mengatur tata niaga pala di Fakfak.
“Pedagang mengendalikan pasar dan memainkan harga biji pala dengan dalil kwalitas pala untuk menjatuhkan harga pala petani”, ungkap Esau.
Masyarakat adat Mbaham Matta resah atas ulah pedagang pala dan belum adanya tanda-tanda pemerintah bergerak untuk melindungi petani. Masyarakat adat Mbaham Matta yang tergabung dalam Forum Petani Pala (FPP) Fakfak sudah mendatangi tim pemerintah penyusun Perda, tetapi belum ada tanggapan yang memuaskan.
“Kami tidak puas, karenanya FPP Fakfak merencanakan melakukan aksi protes mendatangi kembali pemerintah dan DPRD Kabupaten Fakfak hari ini (22/11/2016). Kami menuntut Bupati Fakfak segera menerbitkan Perda Tata Niaga Pala dan mengeluarkan surat edaran harga Pala yang layak, sesuai dengan permintaan bersama masyarakat, yakni: harga 1000 biji Pala Mentah sebesar Rp. 500.000, Bungga Pala Kering Rp. 100.000 per kilo, Biji Pala Kering Rp. 80.000 per kilo”, tegas Amos Wagab, yang juga petani dan aktivis sosial setempat.
Aksi ini direncanakan akan diikuti ratusan petani dari berbagai kampung dan diisi aksi taeterikal untuk mengungkapkan nilai pala dalam kehidupan masyarakat.
Sumber: Yayasan Pusaka

Terimakasih Sudah Membaca serta Kunjungan anda disini

Kalau suka, silahkan klik "like/suka" di bawah ini:

No comments

Silahkan menanggapi melalui kolom ini dengan bahasa yang santun, link aktif berupa spam dan link p*rno, togel akan dihapus.

Powered by Blogger.