Yogyakarta Darurat Demokrasi, Marak Intoleransi dan Kekerasan

Advertisemen
Mobil PMI yang bawa Logistik disuruh pulang oleh aparat

Tindakan kepolisian sudah sangat diluar batas penegakan hukum dan kemanusiaan. Setelah sebelumnya membiarkan adanya intimidasi dan tindakan rasis ormas Yogyakarta yang berbentuk sweeping dan umpatan "Monyet" bagi orang-orang Papua.
Kepolisian Yogyakarta juga menyabotase asrama mahasiwa Provinsi Papua di Yogyakarta, yakni dengan mengepung, memblokade serta menutup seluruh akses masuk kedalam asrama, lengkap dengan senjata, mobil water cannon serta ormas reaksioner setempat. Tidak selesai sampai disitu, kepolisian juga melakukan penangkapan terhadap 8 mahasiswa Papua yang hendak masuk ke dalam asrama, beberpa ditangkapi di jalanan dengan melakukan cegatan khusus bagi orang-orang Papua.



Penghuni asrama belum makan dari pagi. Pun mobil PMI yang sedianya akan mendistribusikan makanan dicegat dan tak diperbolehkan masuk oleh kepolisian. Sampai saat ini aparat kepolisian masih melanjutkan sabotasenya terhadap asrama mahasiswa provinsi Papua di Yogyakarta.
Jelas, selain menimbulkan keresahan di masyarakat, kepolisian juga melanggar asas kemanusian dengan proses sabotase yang dilakukan. Alih-alih mendapatkan makanan, penghuni asrama justru ditembaki dengan gas air mata.
Untuk diketahui, bahwa mahasiswa Papua di Yogyakarta bersama dengan Persatuan Rakyat untuk

Pembebasan Papua Barat (PRPPB) yang didalamnya tergabung banyak organisasi2 dan kelompok pro demokrasi Indonesia sejatinya akan melakukan aksi damai untuk mendukung kenggotaaan penuh United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) di Melanesian Spearhead Group (MSG). Aksi dukungan itu dilakukan guna memperkuat perwujuduan Hak Menentukan Nasib Sendiri sebagai Solusi Demokratis Bagi Rakyat Papua.

Source Haedar de Ahmad
Advertisemen