Mengenang Sholawatan di Asrama Papua Jogja

Advertisemen

 Jengkel rasanya mengikuti fitnah yang disebar oleh kelompok fasis Jogja di media sosial semacam WA yang menyudutkan mahasiswa Papua di Jogja ketika terjadi demo dan pengepungan aparat di Asrama Papua Jogja. Banyak kata-kata melecehkan hingga menganggap mereka sebagai musuh NKRI dan umat Islam yang dipakai oleh kelompok fasis kepada warga Papua di Jogja.

Mungkin mereka para milisi tidak tahu. Tapi aparat Jogja pasti tahu bahwa beberapa hari menjelang lebaran kawan-kawan Papua Jogja menggelar diskusi dan buka bersama di Asrama Papua Jogja. Acara dibuka dengan sholawatan kemudian buka bersama dan sholat jamaah Maghrib yang dilanjutkan dengan diskusi yang kebetulan saya sendiri yang menjadi pemantik diskusinya. Bahkan malam itu saya menginap di Asrama Papua.

Kawan saya, Roy Karoba bahkan dengan sangat hangat menemani saya buka puasa. Ketika sahur pun ia ikut sahur untuk menghormati saya. Sebelum sahur saya becanda kepadanya: "Wah, enak sekali bung ini... sahurnya jam 4 pagi. Nanti buka puasanya jam 6 pagi". Dia tertawa terkekeh-kekeh dengan ledekan saya. Setelah itu dia bersama Haidar masih tidak tidur menjaga saya agar bisa tidur nyenyak.

Jadi, kalau sekarang ada pihak yang mengatakan bahwa kawan-kawan Papua sebagai musuh NKRI dan umat Islam, sembari membinatang-binatangkan mereka maka yang binatang dan musuh umat Islam tak lain adalah mereka sendiri yang menebar kebencian dan teror kepada warga Papua. Meski demikian, yang kita sayangkan adalah tindakan represif aparat dan setting aparat yang sengaja mencoba membenturkan milisi fasis dengan kawan-kawan Papua di Jogja. Ini bukan yang pertamakali dilakukan aparat dalam hal ini polisi.

Di Malang, sebelumnya juga pernah terjadi. Oleh aparat, Banser sengaja hendak dibenturkan dengan mahasiswa Papua yang demo.
Untungnya pihak Banser segera sadar bahwa ini politik adu domba. Alih-alih hendak merawat NKRI, Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika justru mempercepat kehancurannya.
Kalau pemerintah sungguh-sungguh dengan Pancasila, harusnya Papua diberi hak untuk menentukan nasibnya sendiri. Saya kira ini jalan yang paling demokratis dan islami dengan prinsip "Syura" nya.
Bukankah, Islam sangat menjunjung tinggi prinsip kemerdekaan (al-hurriyah), kesetaraan (al-musawa), keadilan (al-adalah), damai (al-shulh), dan toleran (tasamuh)? Kenapa terhadap Papua kita tidak berlaku sebagaimana prinsip-prinsip tersebut? Indonesia pun begitu.
Bukankah dalam mukadimah UUD 45 dikatakan bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa. Tapi kenapa kita masih ingin terus menganiaya dan menggantung nasib Papua? Dan dalam esai yang saya sampaikan di diskusi Asrama Papua. Saya mengkritik sekelompok intelektual yang naif memahami NKRI sebagai sesuatu yang supra sejarah dan seolah-olah seperti konsensus bersama yang tidak bisa batal. Iya benar. Bahwa perjanjian bernegara dan berbangsa merupakan (Mitsaqan ghalidza) yaitu perjanjian yang agung. Tapi kalo mengandaikan bahwa bernegara dan berbangsa sebagai sesuatu yang berdimensi ilahiah sehingga menjadi suci dan harus dipertaruhkan dengan cara apapun juga.
Bahkan harus mengobarkan perang atau membiarkan penyiksaan, penganiayaan dan pembunuhan warga Papua. Saya kok miris melihatnya. Masak sih ada yang mikir bahwa ada awal tapi tidak ada akhir? Kok kontradiksi ya.. lha nikah aja bisa bubar kok kalau salah satu selingkuh dan berlaku tidak adil. Masak perceraian dengan begitu tidak maslahah? Sila dipilih. Terus digebuki atau mending cerai? Ya mending pilih cerai lah.. ini gampangannya begitu.

Lha yang aneh lagi, ada kawan Islam Demokrat yang biasa gemar bilang boleh mempertanyakan Iman tapi dia sendiri nyinyir kalau ada orang mempertanyakan konsep Negara bangsa dan negara integralistiknya Soepomo sembari melumrahkan kekerasan di Papua. Ia tidak terima kalau ada yang menggugat tafsir Pancasila ala orba, yang oleh Soeharto Pancasila dijadikan sebagai cara untuk menggebuk apa-apa yang dianggapnya sebagai ekstrim kiri maupun ekstrim kanan (waktu itu yang dianggap ekstrim kanan ya PPP). Melalui konsep asas tunggal Pancasilanya Soeharto melakukan politik pembersihan terhadap siapapun yang berbeda pandangan politik dengannya.

Ini aneh bin ajaib. Saya kurang tahu dasar teoritik nya mereka apa ketika ngotot dengan tafsir NKRI dan Pancasila nya orde baru. Tapi saya ingin memulai Perdebatan ini dalam membincangkan Papua. Karena mungkin mereka lupa. Wakil Rois Am PBNU Almarhum almaghfurlah Kiai Anwar Musyaddad bahkan sempat bertanya kira-kira demikian: "apakah berdasarkan Pancasila semua orang harus menjadi yes men?" Ketika beliau memberikan alasan kenapa partai PPP dan kelompok NU melakukan Walk out pada sidang MPR 1978 dalam sidang penerapan Undang-Undang Pemilihan umum. Bahkan dulu waktu masih kecil. Ketika kampanye PPP di Jombang. Beberapa kiai-kiai menganggap Golkar sebagai "Golongan Quraisy". Kenapa generasi muda pasca Gus Dur tidak melanjutkan agenda demiliterisasi nya Gus Dur dan cenderung mesra dengan militer? Atau berani bersikap sebagaimana Kiai Anwar Musyaddad.
Kenapa semuanya sekarang terkesan bisu dengan proyek politik neo orde baru yang tengah digembar gemborkan melalui NKRI harga mati?

Kalau boleh ditanya. Tak ada rakyat yang ingin melihat Indonesia terpecah-pecah. Tapi realitas terbayang yg dikatakan Ben Anderson sdh tidak ada sejak naiknya orde baru. Bahkan bisa jadi bagi bangsa Papua realitas terbayang itu sudah tidak ada sejak Pepera atau jangan-jangan tidak pernah ada. Apalagi gunung Nemangkawi yang disucikan oleh suku Amungme sdh musnah dan rata dengan tanah. Tidak bisa tidak Indonesia dan Freeport telah menghancurkan tidak hanya alam Papua tapi juga identitas kebudayaan mereka.
Jadi apakah Papua anti NKRI sekaligus Islam? Sila dipikir sendiri.

Sumber catatan : Roy Murtadho



 
Advertisemen