Garam Tak Layak Diduga Beredar di Papua

Apabila garam ini masuk Jayapura, dikhawatirkan akan langsung dibawa ke wilayah Pegunungan Tengah. Kalau sudah masuk Pegunungan, akan sulit diawasi.
Pekerja mengumpulkan garam saat panen perdana di salah satu tambak di Panggungharjo, Pasuruan, Jawa Timur, Rabu (8/7). Produksi garam yang dijual dengan harga Rp 450.000 hingga Rp 500.000 per ton tersebut mengalami keterlambatan akibat cuaca yang tidak menentu beberapa waktu yang lalu.
JAYAPURA - Diduga garam tak layak konsumsi saat ini beredar di masyarakat luas. Guna menyikapi hal itu Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Papua melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Pasar Sentral Hamadi, Jayapura.
"Kami menduga garam yang tidak beryodium dan tidak layak dikonsumsi masyarakat, sedang beredar di sini. Informasi yang kami dapat, garam yang dijual tidak mengandung yodium itu produksi lokal. Ini kalau dikonsumsi bisa menjadi penyebab sakit gondok," kata Kepala Seksi Bahan Pokok Disperindag, Ayub Marbo, baru-baru ini.

Ia menjelaskan garam yang tak layak konsumsi dan tanpa merk itu diduga didatangkan dari Kota Serui. “Info ini masih simpang siur, makanya lebih baik kami langsung bergerak cepat, turun lapangan," terang Marbo yang didampingi Kabid Usaha Perdagangan Dalam Negeri, Belinda A Sahulata, bersama tiga staf Perindag Papua.

Dari hasil sidak ke kios -kios yang menjual bahan pokok itu, mereka mengambil lima sampel garam dari tiga merek berbeda. Kekhawatiran Disperindag Papua ini cukup beralasan. Sebab apabila garam ini sudah masuk Jayapura, dikhawatirkan akan langsung dibawa ke wilayah Pegunungan Tengah. Kalau sudah masuh Pegunungan, akan sulit diawasi.

Nantinya lima sampel itu akan diuji di Laboratorium Balai Industri milik Perindag Papua. Sementara itu ketika sidak di Pasar Hamadi, rata-rata pedagang mengakui barang yang masuk ke Jayapura didatangkan dari Surabaya, Jawa Timur.

Saat sidak di toko berinisial SR, petugas menemukan tumpukan sepuluh karung berlabel "Anak Pintar" yang diletakkan di tempat tak layak serta becek. Menurut pengakuan pedagang, karung itu berisi garam. "Saya marah karena karung berisi garam itu ditaruh sembarangan,” kata Ayub, sambil menegaskan bahwa suatu saat nanti ia akan melakukan sidak lagi bersama Balai Pengawasan Obat dan Makanan (POM).


Sumber : Sinar Harapan

Kalo suka, jang lupa klik "like/suka" di bawah ini:

Related : Garam Tak Layak Diduga Beredar di Papua