Catatan Luka Perempuan Papua

Catatan Luka Perempuan Papua
Isinga, Roman Papua adalah satu dari sedikit karya sastra yang bertemakan perjuangan perempuan Papua mengatasi persoalan adat dan relasi sosialpolitik yang patriarkis.

Isinga berarti ibu atau perempuan. Novel ini semacam catatan luka perempuan Papua. Dorothea Rosa Herlianty menulis dengan cerdik, karena mampu menyuguhkan realitas luka perempuan Papua yang dalam dan lebar itu menjadi cerita yang memikat dan menyentuh.

Alur ceritanya tidak mengundang kemarahan, melainkan menggugah hati, agar para pembaca tidak memalingkan sekejap pun perhatian terhadap perempuan Papua dalam menghadapi duri dan onak kehidupan yang dikepung tradisi dan absennya pelayanan pemerintah. Roman ini berkisah tentang Irewa. Seorang perempuan muda dari suku pedalaman Papua. Irewa, gadis yang baru menginjak remaja itu bertarung sendirian untuk menaklukkan sang nasib.

Irewa diperangkap adat dan kebiasaan yang tidak memihak perempuan, prilaku suami yang menghinakan, dan kondisi yang menyulitkan, baik karena alam mau pun karena konstruksi sosial. Dalam seluruh kesulitan itu, Irewa keluar sebagai pemenang. Maka dari itu dalam roman ini terasa betul bagaimana perempuan Papua bergulat dengan sang nasib, berjuang untuk menang dari segala kondisi yang tidak seincipun memihak kepada perempuan.

Perempuan bernama Irewa itu baru saja dalam hitungan hari mengalami menstruasi pertamanya. Sebagai kembang kampung Aitubu, Irewa memikat banyak lelaki muda. Salah satunya adalah Malon dari kampung Hobone. Namun, Irewa yang telah jatuh hati pada Meage, pemuda Aitubu, me-nolak Malon. Malon yang gelap mata, kemudian menculik Ire-wa dan melarikannya ke Hobone.

Menculik perempuan untuk diperistri adalah kebiasaan di wilayah pedalaman pegunungan. Pertalian cerita antara Irewa Ongge, Meage Aromba, dan Malon Hobone yang dipermainkan oleh nasib baik dan buruk, jalin menjalin dalam roman ini. Penculikan Irewa, memicu perang suku, prajurit perang Aitubu menyerang Hobone untuk menuntut balas.

Pembunuhan antar klan terjadi, puluhan nyawa lepas dari raga. Aitubu dan Hobone telah lama terjebak dalam perang yang tidak berkesudahan. Karena tidak mau perang berlanjut, tetua Hobone menawarkan perdamaian kepada Aitubu, dengan Irewa sebagai jaminannya. Prajurit Aitubu yang tidak mau lagi korban jatuh, bersedia berdamai. Namun, Irewa tidak bisa kembali ke Aitubu sebab ia harus menjadi istri Malon. Irewa menjadi yonime, yaitu perempuan jaminan perdamaian.

Sebagai yonime Irewa harus patuh kepada Malon yang telah memperistrinya dengan sejumlah babi sebagai mas kawin. Sebagai istri yang sekaligus yonime, Irewa bak tawanan. Seluruh suka-citanya hilang berganti duka-lara sepanjang hari. Perempuan yang baru mengalami haid itu bergelut dengan nasib, karena kemudian setiap tahun ia hamil, melahirkan sampai delapan kali dan keguguran kandungan berkali-kali. Keguguran itu dialami oleh Irewa karena ia bekerja di kebun terlalu berat dengan asupan gizi yang buruk dan fisik yang telalu lelah.

Sementara jika bersalin, Irewa harus melakukannya sendiri, beralaskan selembar daun pisang untuk menampung orok. Dua hari setelah bersalin, ia harus langsung bekerja dengan berjalan kaki atau mendayung perahu menuju kebun dengan orok di dalam noken. Pukulan, injakan, dan sepakan dari suaminya juga menjadi bagian dari hari-hari Irewa. Irewa dipaksa beranak banyak, khususnya harus anak laki-laki oleh suaminya. Anak lakilaki dalam klan suaminya, berarti simbol harga diri dan martabat.

Sekaligus, sebagai prajurit cadangan jika perang antar suku meletus. Sementara Malon, sang suami, tidak bekerja atau membantu Irewa mengurus anak dan memberi nafkah. Suaminya hanya bergantung hidup kepada Irewa, tetapi Irewa selalu diperlakukan secara kasar. Kebiasaannya adalah main perempuan muda dan mabuk di kota distrik yang baru berkembang. Kebiasaan Malon main perempuan berakibat buruk bagi Irewa, karena Malon membawa penyakit kelamin ke rumah.

Malon membiayai tabiat buruknya dengan menjual tanah adatnya perlahan-lahan. Nasib Irewa yang malang, dipadankan dengan jalan hidup Meage yang berliku-liku. Pasca Irewa diculik, Meage yang malu karena dalam perang tidak berhasil merebut Irewa kembali, pergi meninggalkan kampung.

Meage tetap mengenang Irewa sebagai penyemangat hidupnya. Nasib melontarkan Meage ke ranah politik yang tidak pernah dia impikan. Ketika Meage dalam perkelanaannya sampai di satu kampung, ia menyaksikan segerombolan orang berbaju hijau membakar honai-honai, membunuh babi, menembak para lelaki, anak-anak dan perempuan.

Ternyata gerombolan manusia berbaju hijau-yang belum pernah dilihat oleh Meage itu, menurut salah satu kepala kampung yang dijumpainya-marah karena orang-orang di kampung itu tidak memilih apa yang disuruh mereka. Sejak itu Meage mengenal kata baru, yaitu Pemilu. Meage yang terus berpetualang untuk meringankan luka hatinya, bertemu dengan Rumanus, seorang seniman yang mengumpulkan lagu dan tarian tradisi suku-suku di Papua.

Terpikat pada kebaikan Rumanus, Meage akhirnya bergabung dengan kelompok kesenian Farandus yang dipimpin Rumanus. Meage yang lihai memainkan tifa seperti menemukan dunia baru dalam Farandus. Namun tidak berapa lama, Rumanus yang dipatroninya ditangkap dan kemudian dibunuh oleh tentara. Rumanus diperlakukan kasar karena dicurigai menyusun perlawanan kepada pemerintah melalui kesenian. Pertalian Meage dengan Irewa dalam seluruh cerita itu adalah Jingi, saudara kembar Irewa.

Jinggi adalah anak yang diselamatkan oleh perawat asal Manado, sehingga ia besar menjadi anak kota. Irewa dan Jingi terpisah karena kebiasaan di Aitubu, bahwa jika ada anak kembar, maka salah satunya harus dibuang atau dibunuh. Suster Manado itu tidak tega hati, ketika Jiggi dibuang ke sungai, secara diam-diam diambil dan diasuh. Berkat bimbingan Suster Manodo itu Jingi tubuh menjadi perempuan percaya diri dan sekolah kedokteran. Akhirnya, Jingi menjadi juru selamat Irewa.

Berkat bimbingan Jingi yang dokter, Irewa bisa keluar dari kesulitan-kesulitannya. Bahkan, Irewa bisa berkembang menjadi perempuan kuat yang mampu mengatasi masalah-masalah sosial yang muncul akibat munculnya kota distrik baru, yang membawa segala macam masalah perkotaan. Jingi juga berkawan dengan Meage.

Bahkan, ketika Jingi menjadi mahasiswa kedokteran di Belanda, Ia menemui Meage yang jadi pelarian yang kesepian di Jerman. Melalui surat elektronik, jalinan cerita baru antara Meage, Jingi dan Irewa tumbuh. Isinga, Roman Papua ini sunguh istimewa. Konteks waktu jalinan ceritanya merentang antara 1970-an sampai 2000-an. Dalam rentang waktu itu Papua mengalami situasi yang brutal sampai terbukanya ruang demokrasi.

Memadukan peristiwa-peristiwa brutal kala itu dengan perkembangan tradisi Papua yang baru terjamah pemerintahan menjadi sebuah roman yang mengalir jernih tentu sebuah kelihaian yang bernas dari penulis. Pilihan peristiwa-peristiwa yang dijadikan latar drama dalam roman ini cukup cerdik, yaitu menempatkan peristiwa-peristiwa besar yang telah dikenal publik. Roman ini memang fiksi, karena tidak mengacu pada peristiwa dan nama nyata mana pun.

Namun, jika anda membacanya secara seksama, anda akan masuk pada realitas yang sesungguhnya lewat jembatan fiksi. Artinya, realitas yang begitu keras di Papua, diperlunak oleh sastra, namun hasilnya menjadi jauh lebih tajam. Buku yang terdiri dari sembilan bab ini pantas dibaca oleh semua pihak, khususnya eliteelite Papua sebagai bahan refleksi.

Sementara bagi elite-elite Jakarta, buku ini bisa menjadi alat pelunak hati, agar lebih hati-hati mengelola Papua, yang telah terlalu lama luka. Luka yang dicatat rapi oleh perempuan (isinga ) Papua dengan seluruh pedihnya. Selamat membaca.

Amiruddin al Rahab
Ketua Papua Resource Center  
(ars) - www.koran-sindo.com

Related : Catatan Luka Perempuan Papua