ULMWP: Tidak Ada Leadership Dalam Perjuangan Politik

Jayapura, – Kegagalan Papua melahirkan pemimpin politik adalah salah satu alasan kegagalan perjuangan Papua Merdeka tetapi tidak mematahkan semangat Bangsa Papua untuk terus memperjuangkannya. Octovianus Mote, Sekjen United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) menjelaskan berbagai upaya yang dilakukan dalam menggapai proses persatuan Bangsa Papua kepada Aprila Wayar, pemimpin redaksi TAPANEWS.com melalui media sosial, Selasa (7/7) malam.

Aprila Wayar (AW) : Selamat malam Pak Okto, bolehkah saya wawancara? Wawancara tertulis


OM : Silahkan, jangan lama karena saya lagi tunggu tamu. Kalau dong muncul, pasti putus.

AW : Baik. Pertanyaa pertama, bagaimana nasib Papua ke depan setelah ULMWP menjadi anggota observer Melanesian Spearhead Groups (MSG) dalam pandangan anda?


OM : Sekarang bangsa Papua sudah bukan orang luar. Pertama, Papua Barat sudah diakui secara resmi sebagai bangsa yang sedang menuju merdeka, nation in waiting. Kedua, pemimpin ULMWP ikut bicara mewakili 1.7 Juta orang Melanesia di Papua Barat setara dengan pimpinan MSG lainnya. Termasuk membicarakan rencana ke depan dan cari jalan selesaikan masalah Papua. Ketiga, masalah Papua Barat sudah akan menjadi masalah politik dalam negeri semua anggota MSG maka ini suatu kemenangan diplomasi yang sangat bersejarah. ULMWP dan Papua duduk setara karena kalau mereka tolak ULMWP sama dengan mereka tolak pimpinan MSG yang akui ULMWP.

Maka itu, Rakyat Papua Barat mulai sekarang bisa jalan berdiri tegap, tidak tunduk. Lalu harus cepat laporkan apa saja yang Indonesia bikin karena semua itu akan menjadi laporan. Kota catat dalam raport wajah Indonesia di Papua dan kita laporkan kepada dunia melalui pimpinan MSG.

AW : Seperti yang saya mengerti dari Konstitusi MSG, ULMWP hanya mewakili orang Papua yang ada di luar dan hampir sebagian besar Orang Papua yang hidup di luar saat ini sudah menjadi warga negara lain. Bagaimana dengan hal ini?


OM : Betul, ada communiqué dirumuskan demikian untuk bisa akomudir Indonesia dan papua. Itu bahasa diplomasi karena pimpinan MSG tahu bahwa kita, ULMWP dibentuk bukan untuk urus kesejahteraan pengungsi melainkan perjuangan Papua Merdeka. Ada tiga anggota MSG saat ini yang mendukung kita menjadi anggota penuh. Saya tegaskan kembali dalam pidato di depan pimpinan MSG saat menerima posisi sebagai observer.

AW : Baik, saya mendengar sedikit tentang pidato tersebut.


OM : Jadi, ULMWP akan lakukan agenda politik menuju Papua Merdeka. Pimpinan MSG tahu agenda itu yang saya sebutkan dalam pidato yang akan kita kerjakan. Tiga anggota dukung kita, jadi kita kuat di MSG. Dua anggota lain akan kita kita sampaikan kebenaran dalam lobby agar selanjutnya mereka juga dukung menjadi anggota penuh dan dukung agenda politik ULMWP. Apalagi? Atau sudah cukup?

AW : Baik Pak, pertanyaan saya selanjutnya tentang persatuan orang Papua di dalam ULMWP. Bagaimana dengan kelompok National Government of Republik of West Papua (kelompok Seth Rumkorem -red) di Belanda dan TPN/OPM Kelompok Goliat Tabuni yang tidak diundang dalam pertemuan ULMWP untuk menjadi satu dalam organisasi payung ini?


OM : Goliat dan TPN itu tentara, tugasnya berbeda dengan ULMWP yang mengurusi diplomasi politik. Keduanya memiliki tujuan yang sama yaitu Papua Merdeka, jadi tidak berbeda. Hanya berbeda dalam tugas saja. Keduanya perlu meningkatkan kualitas agar dapat bekerja secara professional. Kalau militer perlu fokus tingkatkan diri sebagai militer professional. Demikian juga diplomasi perlu ditingkatkan sehingga mampu lakukan diplomasi secara professional.

Yang selama ini tidak ada adalah leadership dalam perjuangan politik. Hal yang sudah kita capai melalui pemilihan yang Bangsa Papua lakukan dari bawah, yakni kami empat dari lima anggota ULMWP semula dipilih lebih dari 500 wakil tujuh wilayah adat pada Juli 2011 di Jayapura untuk wakili Bangsa Papua.

Adik, ada tamu, saya akan jawab nanti. Kirim saja pertanyaan lainnya kalau ada. I have to go now.

AW: Baik Pak. Pertanyaan saya selanjutnya, berangkat dari apa yang saya mengerti, diplomat juga harus mewakili kepentingan atau kelompok militer. Siapa yang mewakili Kelompok Rumkorem dan Goliat Tabuni? karena dari yang saya mengerti, Seth Rumkorem setelah keluar dari Papua pada 1984 lalu juga mengerjakan pekerjaan-pekerjaan diplomat. Baik Pak, itu pertanyaan terakhir, saya tunggu jawabannya untuk berita besok.

OM : ULMWP mewakili Bangsa Papua, bukan kelompok perjuangan. Yang kita wakili  adalah aspirasi bangsa Papua yang merdeka. TPN berjuang untuk merdeka maka aspirasi itu yang ULMWP perjuangkan. ULMWP bukan perwakilan komponen perjuangan.

AW: Ok kakak, terima kasih banyak untuk waktunya, Selamat malam, Tuhan Yesus Berkati Selalu, Syaloom.
OM: Tambahan dari proses pemilihan diatas karena tadi tamu mau tiba dalam 20 menit dan saya perlu bereskan sesuatu sebelum tiba adalah sebagai berikut.

Kami yang dipilih pada Juli 2011 oleh bangsa Papua melalui Dewan Adat dengan kriteria yang amat jelas dan didukung oleh seluruh komponen perjuangan Papua Merdeka. Lihat laporan dari Papua Peace Network selaku panitia pelaksana, dimana tidak kurang dari PDP, DAP, Tapol/Napol dan sebagainya memberikan dukungan. Lalu menjelang pertemuan di Port Vila, Vanuatu pada Desember 2014, rakyat Papua bentuk Tim Rekonsiliasi di tanah air dimana mampu memetakan kelompok perjuangan Papua Merdeka yang aktif dengan pendukung yang jelas di Tanah Papua. Pemetaan bermuara ke tiga kelompok utama yakni Negara Federal Republik Papua Barat, Parlemen Nasional dan WPNCL. Mereka ini yang kemudian hadir di Port Vila ikut rapat bersama para pejuang Papua Merdeka di luar negeri dan memilih kami, lima orang untuk duduk dalam executive board ULMWP selama 3 tahun ke depan. ULMWP dan tiga wadah perjuangan Papua Merdeka dari tanah air selanjutnya bersama-sama membuat konstitusi bagaimana menjalankan ULMWP. Jadi, ada pembagian tugas yang jelas antara sekretariat di dalam negeri dan kita di luar.

Jadi, kami lima orang yang duduk di ULMWP terpilih dua kali dimana pemilihan itu terbuka dan sangat demokratis. Ada dua hal yang signifikan di sini. Selain proses pemilihan yang transparan dan demokratis dan dari bawah ke atas, kedua pejuang ini berada di luar negeri sehingga mampu lakukan tugasnya tanpa takut dibunuh oleh kolonial Indonesia selama ini bila pemimpin perjuangan berada di luar negeri. Dan kami lima yang selama ini mempunyai bukti kerja nyata secara individual bersatu bulat, sumbangkan apa yang kami miliki untuk kerjasama menuju Papua Merdeka. Lalu, api perjuangan ada di dalam negeri. Maka sekali dalam setiap tahun kami laporkan hasil kerja kami kepada rakyat Papua melalui tiga organisasi yang bentuk ULMWP. Dalam pertemuan lalu dan saya yakin kemudian hari juga selalu ada utusan TPN/OPM dan TRPB. Posisi mereka duduk dengar dan bisa kasih pendapat, tidak ambil keputusan karena ini kerja diplomasi. Begitu adik. Yang penting kepemimpinan perjuangan Papua Barat jelas yakni melalui ULMWP.

ULMWP dan TPN tidak bisa dipertentangkan, dua dua mesti fokus kerja professional menuju satu tujuan. ULMWP tidak wakili kelompok tapi aspirasi bangsa Papua untuk merdeka. Kelompok yang dulu pernah ada, kita akui jasa mereka dan akan tertulis dalam sejarah Bangsa Papua. Gerakan bangsa Papua selalu harus menyesuaikan diri dengan perubahaan politik dunia.

AW: Wawancara selesai, Terima kasih untuk telah menjawab pertanyaan-pertanyaan saya di tengah kesibukan. Di Papua sudah larut, saya istirahat dulu. Tuhan Yesus Jaga Kita Semua. Amin.

Sumber : www.tapanews.com

Kalo suka, jang lupa klik "like/suka" di bawah ini:

Related : ULMWP: Tidak Ada Leadership Dalam Perjuangan Politik