Di Amerika Latin, Paus serukan Dialog, Solidaritas, Cinta

Di Amerika Latin, Paus serukan dialog, solidaritas, cinta thumbnail
Umat Katolik di Paraguay
Hampir setiap langkah Paus Fransiskus mengadakan perjalanannya ke luar negeri dan setiap rangkulannya, dia memohon untuk dialog dan keterbukaan inklusi.

Mengunjungi Ekuador, Bolivia dan Paraguay, dia memenuhi kewajiban diplomatiknya dengan bertemu presiden negara-negara itu dan foto bersama dengan keluarga mereka.
Dia juga memberi mereka masing-masing salinan ensikliknya Evangelii Gaudium  tentang kewajiban moral para penguasa politik dan ekonomi, serta salinan ensiklik terbaru Laudato Si, tentang perlindungan lingkungan.

Ia mengunjungi panti jompo di Ekuador, sebuah penjara di Bolivia, dan pemukiman kumuh di Paraguay. Dia juga berkunjung ke penjara perempuan dan Yayasan St. Rafael di Paraguay, yang peduli terhadap pasien miskin yang menderita AIDS dan kanker, mengunjungi pusat untuk anak-anak yang ditinggalkan dan dilecehkan, serta panti jompo.
Keputusan Paus  melakukan perjalanan pertama ke Kuba pada September, sebelum mengunjungi Amerika Serikat dengan  misi yang sama  seperti sebelumnya, kata Pastor Antonio Spadaro, editor La Civilta Cattolica.

“Dua perjalanan pada September adalah Kuba dan para tahanan”. Paus dijadwalkan mengunjungi Curran-Fromhold Correctional Facility di timur laut Philadelphia, AS, kata Pastor Spadaro kepada Catholic News Service.

Perjalanan ke AS juga akan mencakup pertemuan dengan para tunawisma di Washington, 24 September, serta anak-anak dan keluarga imigran di sebuah sekolah Katolik di Harlem ketika ia mengunjungi New York, 25 September.

Pertemuan  Paus Fransiskus jelas bukan hanya menikmati suasana informal dan spontan, tetapi juga  dia benar-benar percaya kawasan jantung Injil itu mempraktekkan  iman mereka kepada  orang miskin dan kurang beruntung.

Pada 10 Juli, ia mengunjungi penjara terkenal di Bolivia di mana  para tahanan melihat dia sebagai seorang berpengaruh yang bisa membantu mereka menekan pemerintah mempercepat proses peradilan, memperbaiki kondisi penjara, dan mengakhiri praktek-praktek yang mereka katakan membeli dan menjual peradilan.
Tapi, Paus berdiri di depan mereka dan memperkenalkan dirinya sebagai “seorang pria yang telah mengalami pengampunan. Seorang pria yang diselamatkan dari banyak dosa. Itulah saya. Saya tidak memiliki lebih banyak memberikan atau menawarkan, tapi saya ingin berbagi dengan Anda apa yang saya miliki dan apa yang saya suka: Ini adalah Yesus Kristus, belas kasihan Bapa.”

Pada pagi hari terakhir di Paraguay, sebelum merayakan Misa publik, Paus Fransiskus melakukan perjalanan ke kawasan Banado Norte, bertemu dengan keluarga-keluarga di  rumah mereka yang sederhana yang berulang kali diterjang banjir setiap tahun.

“Iman membawa kita lebih dekat,” katanya kepada mereka. “Iman membawa kita lebih dekat dengan kehidupan orang lain. Iman membangkitkan komitmen kita, solidaritas kita. Kelahiran Yesus mengubah hidup kita.”

Dikelilingi oleh teman-temannya, yang juga mewakili kelompok masyarakat adat, kelompok lingkungan, serikat buruh dan lain-lain yang tinggal dan bekerja dengan orang miskin, Paus Fransiskus tidak menyerukan untuk revolusi, tapi menegakan  martabat manusia, HAM, dan merawat Bumi tidak lagi diperhatikan demi keuntungan dalam sistem ekonomi dan politik dunia.

Paus Fransiskus tidak menyerukan untuk mengakhiri kapitalisme, tetapi mengakhiri keegoisan, dan pengucilan.

“Jika kita benar-benar menginginkan perubahan positif,” katanya, “kita harus dengan rendah hati menerima saling ketergantungan kita, namun saling ketergantungan yang sehat adalah interaksi, tidak memaksa.“
Merayakan Misa terakhir dari perjalanannya 12 Juli di Asuncion, Paus Fransiskus kembali menekankan  ajaran dasar Kristen – dialog, cinta, solidaritas dan inklusi.

Paus juga mengatakan kepada orang banyak di Paraguay bahwa umat Kristen hendaknya  ”belajar untuk hidup secara berbeda, di bawah hukum yang berbeda, dengan aturan yang berbeda. Ini adalah cara mengubah  jalan keegoisan, konflik, perpecahan dan mengutamakan sikap belarasa dan cinta.”

Sumber: ucanews.com    - http://indonesia.ucanews.com

Related : Di Amerika Latin, Paus serukan Dialog, Solidaritas, Cinta