HUT PAPUA 1 DESEMBER

HUT PAPUA 1 DESEMBER

Sunday, April 1, 2012

Kapolres Fakfak Ancam Seorang Aktifis LSM

Fredy Warpopor(Jubi/ist)
Kepala Kepolisian Resort Kota Fak-fak, Provinsi Papua Barat,  AKBP Rudolf Michael mengancam bakal menangkap Fredy Warpopor, aktifis Elsham sekaligus koordinator Foker LSM  Papua wilayah Fakfak jika melakukan pendampingan terhadap warga. Bahkan Warporpor juga dituding sebagai provokator.

Dari laporan tertulis yang di peroleh tabloidjubi.com, via surat elektronik (email), Jumat (30/3), ancaman dan tudingan tersebut berawal dari penangkapan delapan warga Fakfak yang terkena rasia Bahan Bakar Minyak (BBM) yang dilakukan oleh aparat kepolisian fakfak pada Sabtu(23/3) lalu. Ketika ditangkap, aparat kepolisian berhasil menyita BBM eceran mereka (delapan warga). Kala itu juga, kedelapan orang ini meminta Dewan Adat Fakfak dan Elsham serta Foker LSM wilayah Fakfak untuk mendampingi mereka dalam persoalan ini. Karena, begitu banyak pengecer minyak di kota julukan pala ini namun mengapa hanya delapan orang saja yang dijarah polisi. Sementara, ratusan lainnya dibiarkan tetap melangsungkan dagangan ecerannya, mereka tak ditangkap dan diproses.
Atas permintaan delapan warga yang ditangkap, Elsham dan Foker wilayah Fakfak pun melakukan pendampingan sekaligus memfasilitasi para korban BBM ini untuk mendapat pendampingan langsung dari Pengacara Hukum (PH) La Iriani, SH. Pada Selasa(27/3), kepolisian menetapkan delapan warga ini sebagai tersangka. Penerapan tersangka tetera dalam surat panggilan polisi bernomor : SP/226/III/2012/RESKRIM.
Delapan tersangka itu dituding melanggar Undang-undang  Nomor  22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas. Kedelapan orang itu masing-masing Vivi, Alwiyah, Arifin, Erni, Aisa, Musrifa, Munarti dan Yer. Pada Rabu (28/3) sore, para tersangka meminta Sity, seorang  staf Elsham Papua, untuk mendampingi mereka bertemu bupati Fakfak Drs. Mohamad Uswanas, di kediamannya.  Tetapi, saat itu bupati  keluar ke Distrik Teluk Patipi. Meski demikian, delapan warga bersama Sity memilih untuk menunggu di kediaman sang bupati. Pasalnya, bupati di kabarkan balik pada pukul 08.00 WIT. Akhirnya, mereka menunggu hingga pukul 24.00 WIT. Namun, mereka tak menemui sang Bupati untuk menyampaian masalah yang di hadapi lantaran bupati tak kunjung tiba.
Melihat waktu sudah jauh malam, Fredy Warpopor berupaya bergerak dari rumahnya setelah mendapat informasi dari rekannya menuju kediaman bupati untuk menemui para tersangka. Ketika tiba, Fredy mengarahkan para tersangka untuk tetap mengikuti proses pemeriksaan polisi yang akan dilanjutkan lagi pada Kamis (29/3). Fredy juga menyampaikan bahwa para tersangka akan di dampingi oleh seorang pengacara hukum (PH) yang sudah di tunjuk oleh Elsham dan Foker LSM Papua wilayah Fakfak. Korban sepakat dengan penyampaian itu. Setelah penyampaian itu, Fredy dan Sity bersama delapan tersangka menunggu kendaraan untuk pulang.
Sementara menunggu kendaraan pulang, tiba-tiba datanglah Kapolres, AKBP. Rudolf Michael. Ketika tiba, Michael langsung memerintahkan semuanya berkumpul di depan Winder Tuare (tempat pertemuan) lalu menanyai para tersangka. Pertanyaan Kapolres saat itu adalah ‘Untuk apa bapak ibu datang ke sini ayo jawab. Salah satu orang yang di tunjuk sebagai juru bicara langsung menjawab kami mau bertemu bapak bupati  untuk meminta keadilan atas nasib kami terkait  BBM yang disita oleh bapak Kapolres.’ Mendengar pernyataan itu, kapolres naik pitam. Dengan tegas Kapolres Rudolf menyatakan, semua dengar, kalian telah salah. Di sini bukan tempatnya. Mestinya, sejak kemarin kalian datang ke kantor Polres untuk dimintai keterangan, tetapi kalian hendak mendengar orang-orang yang hanya memprovokasi sambil menunjuk Fredy Warpopor yang berdiri di dekat para tersangka.
Tudingan lain dari sang Kapolres terhadap Fredy yakni ‘Kamu jangan jadi provokator,  kamu telah menyesatkan mereka ini, kalo kalian ini di tahan, Fredy tidak bisa bebaskan kalian. Kapasitas dia apa?  Cuma LSM, bukan pengacara. Ingat dewan adat tidak bisa bebaskan kalian, ini bukan hukum adat, semua tunduk di bawah aturan di Republik ini, apa lagi si Fredy ini profokator. “Hei Fredy,  kau ingat sampai terjadi apa-apa di daerah ini, kau yang saya pegang kau, ingat itu,”urai Warporpor mengutip ucapakan Kaplres Fakfak..’ Setelah tudingan dan ancaman itu disampaikan, Kapolres memerintahkan delapan tersangka itu menaiki truck polisi menuju kantor Polres fakfak.
Fredy Warpopor yang di hubungi tabloidjubi.com via ponsel, Jumat(29/3), mengatakan dirinya sama sekali tak memprovokasi delapan warga yang sementara diproses di kepolisian lalu ditetapkan sebagai tersangka. Dia juga tak membujuk mereka. Namun, hanya memenuhi permintaan pendampingan oleh mereka.  Atas permintaan itu, ia bersama rekannya, Siti memenuhi permintaan delapan warga tersebut. “Kami dampingi mereka karena diminta. Bagi dia, mereka pantas didampingi lantaran menjadi korban,” ujarnya. Lanjut dia, sebelum delapan warga itu mengadu ke kediaman bupati, mereka terlebih dahulu mendatangi kediaman Sekretraris Daerah. “Saya rasa mereka tidak salah. Mereka mencari keadilan ke pimpinannya,” ujarnya.
Menurut Fredy, seharusnya aparat kepolisian menangkap semua pengecer BBM diseantero Fak-fak. Bukan hanya menangkap delapan warga. Lantaran, ribuan pengecer minyak itu mengakibatkan stok minyak ke SPBU berkurang. Selanjutnya, terkait tudingan itu, Fredy mengakuinya. Kata dia, kala itu, tudingan dan ancaman yang disampaikan dari Kapolres terhadap dirinya dengan nada keras dan tegas. “Waktu itu Pak Kapolres berteriak kasar sekali dalam ruang pertemuan di gedung negara (kediaman bupati) seperti orang berkelahi sambil menonjokkan jari ke arah saya. Delapan orang itu dengar dengan jelas. Orang-orang yang ada di luar juga dengan jelas,” tutur Fredy saat di konfirmasi. Fredy menambahkan, tudingan dan ancaman itu membuat ia merasa tidak aman dan nyaman. “Saya rasa tidak aman dan nyaman dengan sikap kapolres yang seperti itu,” ungkapnya.
Kepala Kepolisian Resort Kota Fakfak, AKBP Rudolf Michael saat dikonfirmasi melalui telepon selulernya, membantah tudingan dan ancaman tesebut. Bagi dia, perkataan itu tidak benar.  Rudolf mengatakan, dirinya tak mengeluarkan perkataan itu dengan tegas dan kasar terhadap Fredy. Dia memilih datang bersama beberapa anggotanya ke kediaman bupati ketika itu, karena sudah larut malam. “Saya datang dengan beberapa anggota saya ke situ karena sudah larut malam baru mereka masih ada di rumah bupati. Ini kan tidak etis dan melanggar etika,” ungkapnya.
Lanjut Rudolf, maksud kedatangan dia bersama anggotanya untuk mengarahkan para tersangka ke Kantor Polres lalu menyuruh Fredy bersama rekannya pulang lantaran sudah larut malam. Delapan orang tersebut perlu diproses karena bersalah dan tersandung hukum. Selanjutnya, terkait ancaman bahwa Fredy bukan pengacara, Rudolf mengaku, memang mengeluarkan perkataan itu karena  Fredy bukanlah seorang pengacara. “Ya, betul saya keluarkan kata-kata seperti itu. Karena memang betul Fredy bukan pengacara,” ujar Rudolf.
Dia menambahkan, pihaknya bertindak demikian lantaran delapan warga itu sementara menjalani proses hukum yakni pemeriksaan. Kepolisian menghargai hukum. Jika ada hal yang di pandang keliru, silahkan menggugat kepolisian fakfak sesuai hukum yang berlaku. “Kita hidup di negara hukum. Jadi, apapun yang berkaitan dengan hukum, mari kita selesaikan sesuai dengan hukum yang berlaku. Kalau memang saya keliru, silahkan gugat sesuai hukum,” tuturnya mengakhiri. (Jubi/Musa)
Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan Masukan pendapat Anda :

Follow by Email